English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

DAFTAR ISI BLOG

Label:
Recent Posts
Tampilkan postingan dengan label Pituah MInang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pituah MInang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2012

Surau, Dan Kerisuan Orang Minang





EKSISTENSI atau pun sumbangsih surau bagi keselarasan (ke)hidup(an) sosial-keagamaan masyarakat Minang, tak bakalan tergerus dari ingatan. Ya, surau pernah berperan besar lagi sangat signifikan sekali. Selain sebagai tempat beribadah, surau berfungsi menampung kakek-kakek uzur tiada berdaya, para duda, musafir atau anak dagang, apalagi anak-anak serta remaja yang hendak menuntut ilmu: dunia dan akhirat. Di surau, seorang anak —terutama remaja putra akilbalig— tidak hanya diwajibkan mengaji-mendalami Al-Qur’an atau mempelajari seluk-beluk agama Islam, tetapi juga dibekali ilimu iduik dan, secara tidak langsung dilatih menyimak serta menuturkan sebuah cerita berikut berbagai pengalaman sehari-hari di samping belajar mendiskusikan permasalahan hidup dan kehidupan yang serba komplit.Pendek kata memang demikian situasi dan arti keberadaan surau, setidaknya, pada beberapa dekade akhir abad XIX hingga penggalan kedua abad ke-20. Tak heran kalau dari surau kemudian muncul banyak tukang kaba yang piawai berkisah, yang keprofesionalannya diperhitungkan di berbagai ajang seperti acara alek nagari, pesta perkawinan, khitanan dan juga di stasiun-stasiun kereta api atau di lepau-lepau kopi. Artinya adalah, surau turut serta mengukuhkembangkan tradisi sastra(wan) lisan Minangkabau. Bahkan ada yang mengklaim, bahwa benang merah peralihan dari sastra lisan ke sastra tulis pada etnik yang tak punya aksara ini, bisa ditelusuri melalui sejarah pertumbuhan pendidikan surau. Orang-orang surau, pada kurun tertentu, dengan gemilang berhasil membudidayakan huruf Arab —menjelma menjadi aksara Arab-Melayu— untuk mengkonkretkan buah pikiran mereka dalam bentuk tulisan atau buku. Dan sebagaimana diketahui, setelah mengenal huruf Latin, sederetan panjang (nama) pengarang asal daerah ini eksis mendominasi paling tidak tiga dekade awal blantika kesusastraan Indonesia modern.Lebih jauh dapat dikatakan, hampir semua tokoh kenamaan di berbagai bidang mengawali segalanya di dan dari surau. Sebutlah umpamanya para intelektual (ekonom, ahli hukum, politikus, jurnalis, sejarawan, negarawan maupun diplomat ulung) sekaliber H Agoes Salim, Bung Hatta, M Yamin, Adinegoro, Natsir, Hamka dan lain sebagainya. Demikian pula dengan tokoh pembaharu pelopor Sumatera Thawalib seperti H Abdul Karim Amrullah alias inyiak Rasua (yang juga dikenal sebagai Doktor HC pertama di Indonesia) dan Zainuddin Labay El Yunusi, atau Abdullah Ahmad pendiri perguruan Adabiah —ketiganya murni berpendidikan surau dan, untuk sekian lama mengajar atau berkiprah di Surau Jambatan Basi Padangpanjang. Ya. Pada masanya, kehidupan institusi (ke)surau(an) di Ranah Minang tampak begitu bergairah. Surau senantiasa membuka pintu selebar-lebarnya buat semua orang. Surau berhasil menyalurkan aspirasi para orangtua. Surau menjadi tumpuan harapan masyarakat Minang. Agaknya, tak ada urang awak yang tak pernah bersentuhan dengan surau.Ironinya, kenapa tradisi kesurauan yang terang-terangan bermanfaat dan berhasil melahirkan sejumlah figur kharismatik bertaraf (inter)nasional itu sirna dan, tidakkah seyogianya dihidupkan saja kembali? Tak berlebihan kiranya kalau muncul kesadaran dan pemikiran yang mengusik seperti itu, yang kemudian mengental setelah melihat kenyataan semakin minimnya orang Minang yang berprestasi dan sukses di forum-forum bergengsi lagi menentukan, semakin tipisnya pemahaman (ber)agama dan kian merosotnya rasa serta nilai-nilai keminangkabauan di tengah masyarakat.Nah. Tetapi menurut hemat saya, kerisauan maupun keprihatinan atau katakanlah persoalan orang Minang saat ini takkan selesai dengan hanya menghajan-hajankan tradisi kesurauan melalui wacana “kembali ke surau” yang didengung-dengungkan. Dengan kata lain, idiomatik “kembali ke surau” yang beberapa waktu berselang santer diteriakkan sebagian orang Minang (baca: para sentimentalis-konservatif) memang tidak lebih dari semacam jargon yang, kini benar-benar sudah kehilangan gaung. Seperti dan atau bagaimana surau yang dimaksud/diprogramkan itu memang belum jelas rumusan dan duduk-tegaknya. Setidaknya saya membayangkan sebuah surau yang lengkap dengan fasilitas modern seperti perpustakaan, sarana dan prasarana olah raga, peralatan musik, televisi, komputer serta pe-es yang game-gamenya bernuansa Islam(i), sehingga anak-anak maupun remaja betah.Kecuali itu, kalaulah kita mencoba membolik-balik lembaran masa lalu bangsa ini, akan ditemui sesuatu yang mencengangkan, yang bisa jadi dicap sebagai tesis atau analisis yang harus dibuktikan kebenarannya. Politik atau sistem pemerintahan yang diterapkan kolonialisme Belanda selama berabad-abad begitu membelenggu bangsa Indonesia, termasuk etnik Minangkabau. Dan ini, lambat-laun membuat kalangan “bernalar” sadar bahwa, kalau ingin maju dan merdeka kita musti berani menentukan sikap. Dalam segala hal kita tidak perlu tergantung pada penguasa lalim yang senantiasa membatasi ruang gerak kita di tanah air sendiri, terutama hak untuk memperoleh pendidikan (formal). Lantas, mereka yang memahami pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan pun melirik dan berbondong-bondong mendayagunakan surau, yang kala itu merupakan salah sebuah (atau mungkin satu-satunya) alternatif paling aman. Surau toh merupakan lembaga agama dan produk budaya asli yang relatif steril dari campur tangan pemerintah Hindia Belanda. Dengan demikian jelaslah, pada satu kurun waktu tertentu orang-orang sadar, cerdas dan bersemangat pergi dan menimba ilmu di surau-surau. Komunitas atau masyarakat surau bukan hanya terdiri dari orang-orang yang “berputus-asa”. Pamor surau tidak identik lagi dengan orang tua uzur, para duda, remaja tanggung, orang kemalaman dan “keserbalusuhan” pakiah: (santri) memakai peci yang sudah memudar, baju gunting cina, berkain sarung, kemana-mana menyandang buntil(an) beras dan kotak wakaf, berjalan atau berujar membungkuk-bungkuk dan tidak berani menatap mata lawan bicara yang kelihatan lebih “wah”. Jadi, bicara tentang “kejayaan” surau adalah menyangkut situasi dan kondisi zaman semata, yang tidak boleh tidak menuntut konsekuensi logis dalam hal memilih yang dirasa paling baik dan efektif.Sekadar berargumen, setelah bangsa Belanda angkat kaki dari negeri ini orang Minang seolah-olah “membelakang” ke surau. Para orangtua, dan begitu pula dengan anak-anak tergolong pintar punya kecenderungan kemodernan lahiriah dalam bentuk mengutamakan pendidikan yang dilaksanakan di gedung-gedung mentereng yang berorientasi ke dunia belahan Barat yang, walau bagaimanapun, memang lebih menjanjikan dan menawarkan harapan-harapan (bersifat) duniawi.Dan dewasa ini sosok surau mengedepan memperlihatkan wujud dan corak tersendiri. Di pedesaan surau sering dimanfaatkan oleh para remaja yang suka begadang. Ssementara di wilayah perkotaan, surau pada umumnya ditangani garin alias mahasiswa “praktik” yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi berbasis (agama) Islam untuk kemudian hengkang setelah meraih gelar sarjana guna mencari pekerjaan yang dipandang lebih baik. Namun, kendati surau seolah tidak bisa lagi memposisikan diri sebagai sentra sosio-kultural berorientasi (ke)agama(an), satu hal, surau tetap merupakan tempat beribadah: sembahyang dan mengaji.
Continue Reading...

pitaruah ayah 5

Ma adoh iyo urang macam itu nak, adoh sifaik nan ka dipakai, yaitu manjauah. Ibaraik marambah bio-bio kok hanyo dioyak dari bawah atau diruntun diratehi alamaik miangnyo batebaran badan ang juo nan kagata. Kalau ka tangguang-tangguang masuak sakadar badebat manumpalak eloklah manyisiah sajo. Sabab dek aluih makan jarumnyo, rumik mancari jajak masuak.

Indak batali ka diri atau tampuaknyo ka dijinjiang salain dandam parang batin batinju kasudahannyo. Basuo bak pantun-pantun urang, jam gadang di Bukittinggi talatak di Pasa Ateh, tukang palindih daulunyo. Haluih karajo urang kini mangarang bungo jo karateh dek kumbang basosok juo. Nak duo pantun sairiang, babuah rambai di puguak, bungo disasok barau-barau, ulah parangai kayu bungkuak, caia malaleh kuduak kabau. Pahamkan bana tu nak kanduang, jago diri ang kanai miang, apolai manjadi miang, samo tak elok kaduonyo. Adopun paku ataupun pakis tarmasuak bangso suku rumpuik. Sajak dulu di ranah minang paku takato jadi sayua sampai kini musaua juo. Malah ndak sajo di kampuang awak, lapeh ka Jawa, ka Malaysiam ka Ambon, ka Kalimantan, sampai Brunei Darussalam, populer katupek gulai paku, lontong Padang namonyo sinan. Nan paliang lamak dicampua jariang, serak-serakan udang bariang, asamnyo, asam balimbiang, bungo sambuang konconyo bana. Kok nak tau jo lamak paku nak cubo diulang maangek-i, lah masiak mangkonyo sero. Tapi ado saketek nan maibo, manuruik pituah angku doktor, paku ndak manganduang gizi, sanasib pulo jo cubadak, manganyang indak bavitamin (he …). Bialah ka ba’a pulo (heh …). Nan nyato itulah budaya awak, gulai pusako Minang Kabau. Samanjak alun barabalun, maso lauik sacampak jalo, marapi sagadang talua itiak, paku cubadak alah juo. Hidup paku jo cubadak, maju terus pantang mundur (he…).A . . . kito tinggakan satu taminak, ditala’ah sifaik-sifaik-nyo tu ambiak ka jadi guru. Dari pangalaman ilmu paku ado bana nan kadi tiru. Yaitu, perjuangan manantang hiduik, “Strange for life”, kato si bule. Yakin, gigiah, pecaya diri tapi jujur. Itu nan patuik kito contoh. Cubo ang like, ang pandangi. Indak sajo di tanah lambuak, di tanah lapa inyo iduik, di salek batu jadi juo. Malah indak pun di ateh bumi di dahan kayu tumbuah paku, di batang karambia bisa subur sampai ka pucuak-pucuak, atok paku ko tatap iduik mewah. Sungguah manjadi pengembara, hinggoknyo indak manyeso, makannyo mancari surang, pantang manggaduah urang lain, bak cando limau di binalu. Mandiri, itu nan patut ka ditiru, suri tauladan ka dipakai. Satantang gigiah jo gagah caliaklah parjuangannyo, walau dihalang, dirintangi, baluka mahambek paneh, angin pun tak dapek lalu ulah dek angkuah kayu gadang.

inyo mampu batahan iduik di bawah bayang kesombongan. Baru kapatang kanai sabik, pagi cako di lanyau kabau, atau diimpok kayu mati, sahinggo punah tingga tunggua, bisuak pagi tuneh tacogok sa-pakan lah rimbun pulo. Panek batauik tak mamba’a, diparun alun ka’abih, antah kok urek nan tacabuik. Tapi, salagi rumpun tak binaso nan paku, bapantang mati. Sadangkan maklhuk tumbuhan tu nak, indak baraka, indak baraso, indak pulo punyo napasu lai gigiah mancari hiduik. Manga kalian kok manganggur, haa. Banyaklah contoh Ayah like, taganda di parantauan, ta tumbuak usaho galeh pondoh poroh pulang ka kampuang. Pangacuik, kok ka gadang raso tak mungkin, pokok tandeh kadai lah lapeh. Carilah mato lokak lain ba’ako lari dari porong. Kandas galeh, lompek ka tukang, ndak lanteh cubo mangantau salek juo ka maojek. Saindak-indaknyo jadi cingkariak, manguli manjawek upah. Pendeknyo usaho, tidak satu jalan ke Roma kato rang sinan. Nan ka usah, kalau ba CV. Duo Jari, ma’agen manjua ganja, manempe jo tante girang, adaik malarang, undang managah, isuak basinggang di narako. Kok lai baliak ka kampuang, basawah mambuka landang, baparak, taranak ayam, syukur bana turun ka tani. Ha… iko indak sawah tingga, ladang marimbo, hutan kosong, lahan talantar, inyo nak sungguah di palantah. Tangah hari di lapau juo, domino balapia-lapia, gurau jo kincah nan utamo. Sahinggo di luluak tajak balariah, pinggan tak cukuik. Pamaleh, kanker jo tumor dalam hiduik nan panyagan, pambarek tandan, pamalu lambek bakisah. Pantang cilako kami dulu, bagayuik ka urang tuo, babaliak makan ka pusako. Apo lai marengek-rengek, pacar den lah gadang juo, kawin ka ba’a ko den lah Ayah, itu haram bagi anak Minang. Baitupun taradok palajar, mahasiswa nan pacah mental, pangaluah panjang, patuik baraja dari paku. Mantang-mantang anak kuliah, gengsi bana turun ka pasa, namuah manjadi kutu rumah. Panganggur intelek bahaso trend-nyo, rumus nan dipakai-nyo. Tujuan sikola jadi pegawai, cari karajo ilia mudiak, masuak kantua kalua kantua, lamar kian kamari, mohon kamari. Sahinggo lah tipih tapak sipatu, tabuak sarawa, tenteang ikua, batarimo ka indak juo. Tidak ada lowongan atau tunggu saja panggilan, baitu jawab pesonalia. Mako dek bosan gilo mananti umua samakin gaek juo. Kasudahannyo, baputuih aso, tibo depres, frustasi, mamanuang, panggalak surang.
Continue Reading...

pitaruah ayah 4

Jikok sapancuang alun putuih kalau salangkah indak sampai, kini gagal bisuak ulangi. Dibaliak-baliak ba-mamanggang baru nyo masak lua dalam, diulang-ulang bak manyapuah sinan tatampak mangileknyo, sabab “kegagalan adalah sukses yang tertunda” baitu kecek cadiak pandai. Simaklah pulo anau jo rimbo nak, tumbuah tak rago urang tanam barabuik sigaek nak mamanjek indak suatu nan tabuang. Batangnyo manganduang sagu, makanan urang sa nagari jo kudo-kudo malamakkan, ruyuang diambiak ka pincuran, kok dikabuang dibalah-balah, elok ka kasau jo kalantai, ka paga nan rancak bana. Daun nan tou jadi atok nan pucuak ka daun rokok lidih disusun jadi sapu. Ijuaknyo elok ka tali, saga pun banyak kagunoan. Buah lamak nirunyo manih. Dimasak jadilah gulo, diparam tuak namonyo, kok rasan itulah cuko. Sampai-pun ka miang palapahnyo, tapakai ka rauak api, sabalun datang Kewe jo Ronsul jatuih dakek urang namokan. Sungguahpun awak urang batuah banso anau indak takabua sifaik sombong jauah sakali. Tagaknyo manjauah-jauah, indak mamiliah tampek tumbuah, di bukik, di lurah dalam, di nan lereang atau nan data. Bia di gurun tanah lakuang inyo basanang hati juo. Daun nyo ndak rampak bana, kok gugua salero tuo, jatuah barungguak ka rumpunnyo, indak tagaduah kiri-kanan. Santano manusia mancontoh anau nak, batang sampia namo asiangnyo. Pastilah, nagari aman kampuang santoso gemah ripah loh jenawi, barek lurah tanam manjadi. Itulah masyarkat nan adil makmur, di bawah ampun ridha Allah. Mako tacapailah nagari nan “baghdatun tayyibatun warabun ghafur”. Sabab baalah yo baitu nak, satiok urang bapancarian mampunyoi padok surang-surang tak ado istilah pangangguran. Tatimbun jurang kamiskinan, hilanglah bingik ke nan kayo, kecemburuan sosial kato rang kini. Sadonyo berpotensi, sadonyo aktif produktif, nan buto panghuni lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah panggaro ayam, nan binguang suruah-suruahan. Inilah sumber daya manusia modal utama pembangunan baitu pemimpin mangatokan. Niro ndak buliah sombong ka didih, kok indaklah karajo sapu batumpuak sarok di laman. Walau hanyo miang palapah usah dileceh diremehkan. Sabab dek rabuak kaiduik api sanggup mambaka rimbo rayo. Mako kalaulah sampai tak paguno nak, ilia santai mudiak bamain, lah gadang bagelong juo, iduik bagantuang ka ranggaek. Malulah awak bakeh anau, urang lah pulo dari sampiak. inok manuangkan tu nak kanduang, bao pikia dalam-dalam.



kaba baraliah, inyo lai sungguah baraliah sinan juo dikaji, tantang bio-bio. nan dikatokan bio-bio nak, bagagang mamanjek samak, biaso tumbuah di baluka roman saujuik kacang paga. Buahnyo baduyun-duyun, kulik bakilek kuniang hamek haluik babulu anak kuciang, itulah miang sabananyo.


Mako salain banamo bio-bio kacang miang namonyo juo jarang lah urang nan tak tau. Dek inyo bagagang panjang, bio-bio manjala tanah, supayo tagak bak urang pulo tapaso malilik batang bagantuang ka rantiang kayu. Banyak kacang pakaro kacang, kacang miang paliang manggata. Gata dek miang bio-bio taseso sabatang tubuah, jantuang lah mintak gawiak pulo. Ba’a bana sakik padiahnyo nak sulih lah Ayah mangatokan, antah kok urang nan marasai. Sumpah, kutuak, caci-makian, upek caraco, caruik kungkang, dibanci salamo hiduik. Jangankan ka mandakek, mandanga namo sajo lah jajok. Kok kunun maliek ka pamenan. jo api mamunahkannyo nak tunggua dikikih dilantiangkan, baitu doso kacang miang. Nyampang kok kito manusia mamakai sifaik bio-bio, sakampuang kanai miangnyo manggata turun-tamurun. Jauahkan laku nan baitu nak, buliah salamaik hiduik awak. Cubo wa’ang bayangkan, ulah dek asuang jo pitanah, gunjiang kian kincah kamari, bisa mararak kasiah sayang urang balaki di sibaknyo. Tibo didagang panggaleh lahabiah di timpo kabakaran, tansano api nan mamakan tingga juo puntuang baronyo. Taga dek bingik dangki urang toke manjadi anak buah. Santano kantua ditimponyo direktur masuak pinjaro, manajer dipecat tagak, sekretaris tabaok rendong. Untuak itu Ayah ingekkan, hati-hati dalam bagaua, banyak batamu bio-bio nak ulek bulu namonyo juo. Karena bak cando jujur muluik manih baso katuju, awak Talen parlente pulo panampilan pun mayakinkan. Ado kalonyo potongan dukun paham rasio dalam batin pandai manakok hati urang. Kadang-kadang bantuak ulama, hadihnyo balapiah-lapiah, ayatnyo bak ilia-ilia, iko dalia iko ma’ana. Ado juo rupo sarjana tau jo pasal undang-undang hukum pidana jo perdata. Geleknyo baragam, kicuah jo kecoh nan nyato inyo manyerak miang cundang kabaji nan nyo agiah. Pura-pua ibo, kasihan katonyo ingin nak manolong barisuak urang batagak gaua gawik gapai sapanjang jalan baliau mangakeh di subaliak.

Continue Reading...

pitaruah ayah 3

Aa.. kini caliaklah pulo kayu gadang, baringin di tangah padang. Baurek cukam ka tanah, jauah taunjam ka pitalo, panuahlah bumi di rumpunnyo. Dek gampo indak tabukek-kan, dek badai alun ka ta-oleang, ko-no lah goyang manilalu. Taguah jo pandirian, istiqamah dengan tauhid, beprinsip tegar dan kokoh. Kalau yakin tumbuah dipaham, sajangka duduak tak bakisa, satampok tagak tak bapayuang, walau baalah bujuak rayu, haram kuniang karano kunyik pantang lamak ulah dek santan. Rugi jo pitih ndak ditumang nak, jariah payah pasa biaso, tapi jaan diago martabat urang. Lompek-salompek ambua tibo indak baserap kato duo, tak iduik mati pun jadi. Kayu baringin bapucuak cewang ka langik, tinggi malepai awan biru, pidoman musafir lalu. Daun rimbun buliah bataduah, bakeh balinduang kaujanan, paneh kaganti payuang panji, ureknyo tampek baselo, batang nan gadang kasandaran, dahan nan rampak ka bagantuang. Aratinyo panutan di masyarakat, cadiak ka bakeh rang batanyo, kayo-ka tampek rang batenggang, bagak tumpuan ka mangadu. Satitiak katonyo di lauiktan, garak dibari jadi contoh, sifat ka suri jo tuladan, sumarak urang di nagari. Perduli dnegan lingkungan, baitu ungkapan maso kini. Sungguahpun beringin tinggi manjulang, tapi tingginyo manungawi bukan maimpok nan dibawah. Walau gadangnyo tabirumbun, gadang manenggang ka nan ketek, urang nan indak takuik talendo. Itulah sifaik pamimpin nak, samantang bapisau tajam indak sumbarang dirawikkan doh, jikok manembak baalamat jaleh sasaran makan pelor. Tapi kalau daram atteh lah nyo kabawah, karusuak siku bamain kamuko manggadang sipak, atau lah runciang juo nan barawik, lah nyato lurah tak babatu, marasau sajo dari ateh, bukanlah sifaik dek baringin nak. Ingeklah apo bilo kayu lah rabah, baa bana lah kagadangnyo, batang lapuak daun karegek usah diarok ka bapucuak, antah tindawan ka bungonyo. Tuah nan lamo ilang lalek jo loncek-loncek ka batonggok urang mancibia bakuliliang tangguang lah doso salamoko. Pahamkan bana tu Nak kanduang, ubek makan pantangan dikana jauah bala jo panyakik. Nan kaji baringin tangah padang, baa pulo nasib kiambang. Jikok kiambang ka dibaco itulah samalang-malang untuang nak. Iduik nyo manyisiah-nyiah kok ingok manapi-napi, katangah takuik dek galombang. Lai baurek indak cukam, tajuntai kapalang turun. Walaupun tumbuah di aia tapi tarandam-randam nyo tak basah, tarapuang-rapuang nyo tak anyuik. Biduak lalu awak basibak, dek angin badan batundo, kok kunun riak mahampehkan. Kiambang adolah simbol manusia rapuah, lamah darah bamental loyo. Sadangkan iduik ko parsainga nak, parang ganas medannyo kejam, tekad mambantu nan partamo, mansiu nan kaduo. Ragu-ragu dalam basikap bimbang satiok kaputusan, alamaik awak mati, satokok lah kalah sabalun parang. Urang panggamang mati jatuah nak, urang pandingin mati anyuik, takuik jo bayang-bayang surang. Dek sabab karano itu, yakin-yakin jo pandirian. Jaan bak payuang tagajai pasak co alang-alang lamah bingkai, sasiuik angin mandatang sasambua rinai manimpo awak lah kucuik mati aka. Tapi naiakkan panji-panji Ang yuang, bangkikkan Nur Muhammad kipehlah baro tungku batin. Sakali masuak ka galanggang, pantangkan babaliak pulang. Patah sayok batungkek paruah, lagu nan usah tabangkalai, cilako ayam disabuangan.

Kayu baringin bapucuak cewang ka langik, tinggi malepai awan biru, pidoman musafir lalu. Daun rimbun buliah bataduah, bakeh balinduang kaujanan, paneh kaganti payuang panji, ureknyo tampek baselo, batang nan gadang kasandaran, dahan nan rampak ka bagantuang. Aratinyo panutan di masyarakat, cadiak ka bakeh rang batanyo, kayo-ka tampek rang batenggang, bagak tumpuan ka mangadu. Satitiak katonyo di lauiktan, garak dibari jadi contoh, sifat ka suri jo tuladan, sumarak urang di nagari. Perduli dnegan lingkungan, baitu ungkapan maso kini. Sungguahpun beringin tinggi manjulang, tapi tingginyo manungawi bukan maimpok nan dibawah. Walau gadangnyo tabirumbun, gadang manenggang ka nan ketek, urang nan indak takuik talendo. Itulah sifaik pamimpin nak, samantang bapisau tajam indak sumbarang dirawikkan doh, jikok manembak baalamat jaleh sasaran makan pelor. Tapi kalau daram atteh lah nyo kabawah, karusuak siku bamain kamuko manggadang sipak, atau lah runciang juo nan barawik, lah nyato lurah tak babatu, marasau sajo dari ateh, bukanlah sifaik dek baringin nak. Ingeklah apo bilo kayu lah rabah, baa bana lah kagadangnyo, batang lapuak daun karegek usah diarok ka bapucuak, antah tindawan ka bungonyo. Tuah nan lamo ilang lalek jo loncek-loncek ka batonggok urang mancibia bakuliliang tangguang lah doso salamoko. Pahamkan bana tu Nak kanduang, ubek makan pantangan dikana jauah bala jo panyakik. Nan kaji baringin tangah padang, baa pulo nasib kiambang. Jikok kiambang ka dibaco itulah samalang-malang untuang nak. Iduik nyo manyisiah-nyiah kok ingok manapi-napi, katangah takuik dek galombang. Lai baurek indak cukam, tajuntai kapalang turun. Walaupun tumbuah di aia tapi tarandam-randam nyo tak basah, tarapuang-rapuang nyo tak anyuik. Biduak lalu awak basibak, dek angin badan batundo, kok kunun riak mahampehkan. Kiambang adolah simbol manusia rapuah, lamah darah bamental loyo. Sadangkan iduik ko parsainga nak, parang ganas medannyo kejam, tekad mambantu nan partamo, mansiu nan kaduo. Ragu-ragu dalam basikap bimbang satiok kaputusan, alamaik awak mati, satokok lah kalah sabalun parang. Urang panggamang mati jatuah nak, urang pandingin mati anyuik, takuik jo bayang-bayang surang. Dek sabab karano itu, yakin-yakin jo pandirian. Jaan bak payuang tagajai pasak co alang-alang lamah bingkai, sasiuik angin mandatang sasambua rinai manimpo awak lah kucuik mati aka. Tapi naiakkan panji-panji Ang yuang, bangkikkan Nur Muhammad kipehlah baro tungku batin. Sakali masuak ka galanggang, pantangkan babaliak pulang. Patah sayok batungkek paruah, lagu nan usah tabangkalai, cilako ayam disabuangan.
Continue Reading...

Kamis, 16 Februari 2012

Pitaruah Ayah 2

Itulah tali sahalai pilin tigo, tungku tigo sajarangan. Kok waang nak samparono nak, manjadi urang baharago. Sajundun jasmani jo rohani, dunia dapek akhirat buliah. Mako sarek-kan kapalo jo pangatahuan, panuahkan dado jo ugamo, gasaklah paruik jo harato.Di ateh tungku nan tigo, sinan tajarang kahidupan, masak hakikat manusia insan nan kamil sabatangnyo. Tapi usah senjang, barek subalah nak, rumik naraco manimbangnyo. Kok cadiak sajo dibanggakan, hiduik bansaik tangan di bawah, tagigik lidah bapituah. Ameh hurai nan Ang sambuakan Yuang, loyanglah juo kecek urang.

Tapek bak bunyi buah pantun, kok rintiak bana kalodeta, lakek talilik di kapalo, kok cadiak bana kalau suka, kecek timpik di nan kayo. Baitupun awak binguang, maraso cadiak, kecek indak bakarunciangan. Disangko pitih pasak lidah, sombong takabua muaronyo. Gekang-bagekang siliah rarek, indak tau tampuak lah layua, lonjak-balonjak labu anyuik, isi gaja, ampo di dalam mahajan, tuah tarnamokan. Di baliak nan dari pado itu nak, kok di ateh isilah panuah, cadiak alah pandai pun inyo, nan di bawah muatan sarek, pitian sambua, bando malimpah. Tapi pasak ditangahnyo lungga, iman goyang, agamo tipih, hilang pidoman kapa basi. Andaknyo, kok kayo suko dmakan, ringan tangan manolong urang, rajin bazakaik, basidakah. Kok tumbuah awak urang cadiak, kusuik sato-lah manyalasaikan, karuah baringan mampajaniah. Maha cacek murah nasihat. Sinan nagari mako aman.Mako dari itu nak, satiok kakok ka diawai, rundiang sapatah ka disabuik. Bulek lah bana kato hati, sasuai dalam kiro-kiro, naiak-kan dulu ka daraik, caliak timbangan hukum syarak lai kok dalam ridha Allah. Itulah naraco nan tak paliang nak sarato bungkah nan piawai, indak mangicuah salamonyo.Anak kanduang balahan nyao, jarek samato Ayah-Bundo putuih tak jo-aa ka diuleh, sapihak ka b adan diri Ayah, urang nan bukan cadiak pandai, ilmu kurang sikola tangguang, mangaji tak sampai katam, rumik lah Ayah babarito. Ndak mungkin si bisu ka banyanyi, mustahil si lumpuah ka manari, baa rang buto ka mambimbiang. Hanyo dek sungguah rajin manyimak dari alam dapek baguru di sinan tibo pangajian. Mari kito cari rasionyo.
Dibalun sabalun kuku, dikambang saleba alam, alam takambang jadi guru, bumi jo langik ado di dalam. Kini nak Ayah curai Ayah papakan, tuah cilako nan talukih, dicaliak jo mato batin, diambiak ka ujuik paham sinan tasaiah ma’ananyo. Ado ampek suruhan, ampek tagah nak. Nan partamo iduiklah bak rumpun aua, usah dicontoh bak tibarau. Nan kaduo, tiru baringin tangah padang, jauahkan sifaik bak kiambang. Nan katigo, simaklah anau dalam rimbo, pantangkan jadi bio-bio. Dan nan kaampek, jadilah sarupo paku, ijan saroman jo binalu.Baa kakanyo rumpun aua, tapuntalang buluah bambu, nyampang tumbuah hitam tapi lereang tanah suko, tabiang mamuji. Kok indak lah urek nan mangungkuang taban bandaro sadionyo. Bukik pun indak taseso, lurah di bawah talinduangan, gagang manjelo dapek junjuang, maso rabuang carian urang, kok gadang banyak manfaat, lah tuo paguno juo. Baitu sifat ka dipakai nak. Dimanapun bumi dipijak, bila di kampung atau di rantau mambao rahmat ka rang banyak. Pandai-pandai jo masyarakat, tau-tau manenggang raso usah pamaha takuik rugi. Kok mangecek ma’agak-agak, pikiakan tiok ka bakato, tapi usah katokan nan tapikia. Sabab luko di pisau tampak darah, nak duo tigo taweh panawa, sanang nan tidak tampak bakeh, tapi luko di lidah sulik ubeknyo mandanyuik ka ubun-ubun, manggaga ka rantai hati. Di lua mungkin tak bakasan, di dalam manaruah kasam. Nan bak kain dimakan nyangek, lipek patahnyo tak barubah, dikambang nyanyai tiok ragi. Bak kato-kato rang tuo ko’ee “kaki tataruang inai badahannyo, muluik tun taloncek ameh tantangannyo”.

Salain nan dari pado itu, satinggi-satinggi batang batuang, pucuaknyo runduak ka bawah, manyilau bumi tampek tumbuah, guno nan tidak talupokan, sambia babisiak bakeh rabuang kok sampai kalian gadang isuak usah lupokan jaso tanah, tau mambaleh budi baiak. Lamahnyo pulo kadikatokan, maliuak di puta angin, manggerai dipupuik ribuik. Bak cando-cando ka tumbang, jangan ka patah ratak tido. Tapi tibo tapaso inyo kareh bisa malantiang ka udaro indak siapo ka manahan. Satiok rueh basambilu, tiok buku bamatang pulo langkok jo duri jo miangnyo, namun tabungkuih dalam kalupak, dari lua tak nampak rupo. Aratinyo, samantang awak diateh, usah pan-den palabiak dado kujua takabua tu namonyo. Balarang bana jo ugamo nak, tacacek sapanjang adaik. Urang iduik banyak batuah, urang mati banyak kiramaik. Lauik sati rantau babego taluaknyo baranjau pulo.

Ikhlas-ikhlas kalau manolong, suko-suko kalau baragiah mahamun sakali jangan. Sabaliaknyo, usah palupokan jaso urang, walau sahaluih bijo bayam, gadang faedah manfaatnyo, pamaaf saba jo rilah habiskan dandam kasumat. Bia urang baniat buruak awak babudi baiak juo. Pakaikan bana tu nak kanduang, usah dicayah dilengahkan, itu tantang buluah jo bambu.Ba’alah pulo jo tibarau. Cubo Ang danga Ang simakkan nak dapek paham hakimahnyo. Iduik tibarau barumpun-rumpun, batangnyo barueh-rueh, badaun panjang bakalupak. Kalau dipandang dari jauah, saroman bana bantuak tabu. Tapi di mamah ramba raia raso amba indak batantu, pangicuah gadang kironyo. Tarau ketek sabantuak jaguang, disilau indak babuah, bungo sahalai tak manaruah. Kalau-inyo tumbuah di lereang atau di tanah katinggian sinan tabukak rasionyo. Barambuih angin ka mudiak, tibarau madok ka mudiak, kokbakisa arah ka ilia inyo baputa kian pulo. Nyampang ditumpu dari ateh, lah sato maangguak-angguak urang diam inyo marumuak. Kian iyo, kamari iyo, lawan jo kawan samo iyo. Pendeknyo sagalo iyo, indak ado nan tidak iyo. Tibo Golkar lah masuak Golkar, urang P-3 inyo P-3, kampanye PDI paliang di muko, indak bapendirian. Aa kasudahannyo jadi anti mambungkuak, masuak karanjang tak baetong, kok pai indak manukuak, pulang indak maluahi, arago bara diri awak.Di dalam bahaso nasional tapeklah kok dikatokan bahwa inilah lambang kepalsuan, penuh kepura-puraan tanpa motivasi dan munafik sulit dipercaya. Awak ko musti jujur Nak, kok indak katokan indak kok lai tunjuakkan lai, usah takah-takah spuluik alun ditanak lah badarai, manipu diri sendiri. Lagak bak cando urang kayo, mangecek pantang di bawah, baa jeneang baa lah mantiak perak basapuah dijarinyo, sarawa bagantiak juo. Padohal baju basalang balagakkan yuang, tiok kalapau tiok utang cah bon, cah pinjaman, sakali indak babayaran, ditunggu urang diariaknyo. Anak cacak tabang ka benteang, tibo di benteang makan padi, awak rancak putiah, celeang diresek saku tak barisi. Jauahkan bana nan bak nantun nak. Hongeh kecek urang kampuang, bagunjiang urang suok kida.Ado pulo nan sok urang cadiak, manggaleh inyo nan santiang, impor ekspor buah tutua-nyo, bursa efek nan tau bana. Baisuak kawan disantuangnyo (heh…). Jo ugamo inyo nan paham, nak musarab Mantiak Maani tafsir khazen Imam Ghazali, kasurau tiok hari rayo. Jo politik tau daulu sajak nan dari orde baru, soal KBJ pembangunan sampai ke Irak ke Bosnia, ulu nuklir tanago atom Amerika, Asean juo (heh …). Awak bagak jo aruh balai, sihia jo gayuang ilmu batin, kungfu, karate, silek tuo sadonyo putuih dek baliau, di garegak lai basunguik nyo. Kok ota soal baguru pulo, anjiangnyo paliang batuah, lupak gerai nan hitam kulik, dado lapang jangkia tagantuang, pilang-pilang bapaneh pulo, sambilan bukik kajarannyo, kakandiak kakijang lamo, lah tigo liang kanai saiang, kabangkai sakali balun.
Continue Reading...

Pitaruah Ayah 1

Ditulis oleh Dr. H. K. Suheimi Rabu, 30 Agustus 2006

Bismillahirahmanirrahim“Rabbish srahli sadri wayasirli amri wahlul u’k datam millisani yaf kahu kauli.”
o… nak kanduang sibirang tulang, buah hati limpo bakuruang, ubek jariah palarai damam, sidingin tampa di kapalo. Kamari-mari molah duduak, ado rundiang ayah Sampaikan.Kalau diliek dipandangi nak, dicaliak umua nan tapakai, badan Ayah baransua tuo, kini manjalang anam puluah. Hari patang mantari turun, awan di barat merah sago, malam nan tidak lamo lai. Nyampang tibo saruan Allah, aja sampai capek paminto umua alah tibo dijangkauan. Tabuah digoa tigo-tigo, badan baganjua baliak pulang katampek asa mulo jadi suruik ka tanah nan sabingkah. Badarun aia pamandian, ba lasia bunyi cabiak kapan, dikocong dikabek limo, cukuik satanggi jo aia bungo. Bararak tandu ka surau, tibo di surau dibujuakan, mairiang shalat ampek takbir.
Kini manuju ka pusaro, iyo ka pandam pakuburan. tagolek di liang lahat, tanah sakapa bapakalang, mahereang mahadok ka kiblat, dibateh papan nan sahalai. Badaro tanah panimbunan, tatagak mejan nan duo, manyalo ciluang hitam, do’a dibaco panghabisan. Tujuah langakah mayik di kubua, nak datang malaikaik pai batanyo. Tapi jangankan tanyo ka tajawab, usaha ndak hawa katabandiang, utang ke anak nan takana, kasiah tagaiang alun sampai.Jo kok basuo nan bak nantun nak, taradok pusako ka bajawek ataupun warih ka di baia, usah diarok dari ayah. Sabab baalah baitu, salamo dunia di tunggu, Ayah diseso parasaian, gilo diarak-arak untuang. Tapi kaganti ameh, bak di urang timbalam, pitih nan babilang, hanyo pitaruah batinggakan, banamo pitaruah Ayah. Itulah tando kasiah sayang, utang nan nyato pado anak, kini ayah lansaikan.
Dangakan molah anak kanduang, simakkan bana nyato-nyato. Satitiak usah lupokan, sabarih janganlah hilang, ganggam arek, paciak tantaguah. Siang ambiklah ka patungkek, kok malam jadikan suluah pidoman patang jo pagi.Takalo maso dulunyo, awal mulonyo san kalahia, bundo di dalam pasawangan sadang dilamun-lamun ombak, angin badai, lauik manggilo, kilek patuih hujan basabuang, kalam nan bukan alang-alang. Lua ke Allah, bagantuang indak kamano ka manggapai. Dek lamo lambek badayuang, sapueh-pueh panangguangan sampailah juo di Kualo. Tali turun sauh dibuang, kapa marapek di tapian balabuah surang pasisianyo. Sawajah kapado urang nantun nak, mandi darah sakujua badan, kakinyo malajang-lajang, taganggam tangan nan duo, bunyi pakiak sapanuah kampuang cando Pandeka dapek lawan. O . . . buyuang, kok ang nak tahu, itulah anak manusia nan lahia ka bumi Allah nangko lahia sarato jo untuangnyo.Adopun tujuan jo mukasuiknyo, mangko jo darah samo tibo, sirah hati pakek panganan lambang barani, lahia batin indak manaruah gamang-takuik. Mangapa tangan suok kida mandongkak, manyipak-nyipak, itu ma’ana urang bagak, medan galanggang nan nyo hadang cakak nan tidak kunjuang damai. Pakiak bukan sumbarang pakiak, sorak kumando dilewatkan ibaraik badia jo mariam, tando nagari dalam parang.Mako pado hakikatnyo nak, hiduik adolah perjuangan dan satiok perjuangan bakandak manang. Kamanangan janjang ka istana manuju kirisi di partuan. Sasungguahnyo manusia adolah rajo, badaulat di muko bumi Allah bana nan manobatkan, “Inni ja’ilu fil ardhi khalifah”.
Untuak itu Ayah pasankan nak, usah manjadi rajo kalah. nan bajalan manakua-nakua. mangecek tatagun-tagun, hilang banso punah martabat. Manambah gantang tatanakkan, manyamak dalam nagari. Kalau Waang nak tau juo nak, iduik nangko indaklah lamo, dunia hanyo sakijok mato. Caliaklah contoh jo ibaraik, maso laia di songsong abang, mati di anta dek sumbayang. Antaro abang jo sumbayang, sinan kamat dibacokan hinggo itulah jatah umua. Bakato Muhammad Iqbal, apolah kato dek baliau:“Umur bukan ukuran masa, hidup tidak takaran zaman, sehari singa di rimba, seribu tahun bagi si domba”.

Ma’ana manjadi singo nak, bukan manggadang bakato darek bakitabullah di tangan, kandak badannyo awak surang. Indak nak, bukan baitu filsafahnyo, tapi bialah satahun jaguang, pagunokan maso nan pendek, bapacu marabuik buko mambuek amal kabaikan. Baguno ka diri surang, tapakai di masyarakat, manfaat salingkuang alam. Untuak apo panjang bajelo, hinggo batungkek saluang api, kalau awak kiliran tangan masak lacuik, makan parentah. Kok kunun pulo, kuma bamiang manggata di dalam kampuang, cilako hiduik tu namonyo.Salampiah nan dari pado itu, umua bukan sabateh kubua, hiduik bukan salacuik abiah. Tapi adoh hiduik sasudah hiduik. Panjang nan tidak kaujuangan nak. Itulah hiduik di akhirat, kamari tujuan sabananyo. Takalo insan di alam roh, janji-lah sudah tapabuek, patimbang muluik dengan Allah, makhluk kata An-Khalik nyo.Kito mamaciak tali kamba nak, usah kandua tagang salampiah, dunia akhirat satimbangan. Nyampang kok putuih kaduonyo sinan tahanyuik handam karam. Kini di rintang angan-angan, isuak diseso panyasalan.di dunia rintang jo ratok, di akhirat gilo jo gagau, kalamlah jalan ka sarugo.
Mangana sakah nan bak kian nak, Ayah bapasan, bawasiat, rantangkan banang ka langik, hubuangkan diri jo Tuhan. Jalin kulindan ateh bumi, paharek buhua jo manusia. “Hablum minallah wa hamblum minannas”. Itulah cancangan duo sagarajai, kapa nan duo salabuahan, samo dek awak kaduonyo.Mano nak kanduang jo nyo Ayah, ijanklah bosan mandangakan, mangecek indak ka lamo, taga dek seso manyimpannyo. Jikok anak taruih mamandang, simak jo daliah mato batin. Adopun tubuah manusia tarbangun dari tigo rungo. Partamo, runggo diateh, kaduo runggo di tangah, katigo runggo di bawah.Nan dimukasuik jo runggo ateh, iolah ruang di kapalo, bakandak isi pangatahuan, ibaraik dinamo masin kapa, ulu tanago baliang-baliang, pambalah aia di lauik-tan. Tasabuik runggo di tangah, yaitu dado rumpun hati, sangka iman lubuak agamo, ikolah pidoman juru mudi, kaganti kompas di nan kodoh. Jan sampai sasek palayaran, hilang tujuan tanah tapi.
Salorong runggo do bawah nak, paruik nan mintak dikanyangkan, umpamo parka tampek barang. Tansano muatan kosong alamaik oleang jalan kapa, dihampeh ombak jo galombang, manantang karam tak batumpang. Atau kalaulah buliah Ayah misalkan kapado alam Minang kabau tardiri dari tigo luhak. Partamo, luhak nan tuo. Lambang kuciang warnanyo kuniang. Kuciang itu binatang lihai, tinggi pangaruah, berwibawa. Kuniang tando kamanangan. Tujuannyo, urang cadiak adi kuasa, sumber ilmu pangatahuan, “Sains Tekhnologi” kato rang kini. Kaduo, luhak nan tangah. Simbol sirah harimau campo, barani karano bana, hukumpun tidak makan bandiang banamo parentah syarak. Calak alah tajam pun ado, tingga dek bawa manyampaikan. adaik alah syarak pun ado, tingga dek awak mamakaikan, moral, spiritual, istilah baru. Nan katigo, luhak nan bungsu. Corak hitam lambangnyo kambiang, rila jo saba bausaho, rumpuik nan indak pantang daun, dek padi mangko manjadi, dek ameh mangkonyo kamek. Mangecek iyo jo pitih, bajalan tantu jo kain, karajo tantu jo nasi, ekonomi baso canggihnyo.
bersambung Catatan : Tulisan ini ditulis oleh Bp. Dr. H. Suheimi atas ijin Yus datuak Parpatiah yang diambil dari sebuah bidaran minang, berjudul “Pitaruah Ayah”. Disusun dan disampaikan sendiri oleh Angku Yus Datuak Parpatiah. Pesan-pesan kaset ini khusus diperuntukkan buat anak kemenakan-ku, generasi remaja Minangkabau, semoga ada manfaatnya, Harapan kami. Atas segala kekhilafan dan kekurangan mohon diberi maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih.Dr. H. K. Suheimi

Continue Reading...

Sabtu, 11 Februari 2012

Pepatah Petitih Minangkabau (Part 5)

501. Taparosok kudo kabanda,baribaganto kapalonyo. Elok rundiangan kato babana, supayo sagalonyo elok balaku.
Lebih baik dalam hidup bergaul suka berterus terang, dari pada memakai sifat tidak jujur.
502. Tambo sapantun bungka jalo, tuangan amuahnyo hilang, tapi pusako lamo baitu juo.
Adat sebagai kebudayaan mungkin berobah, dari yang kurang kepada yang lebih sempurna, tetapi budi akan tetap seperti semula.
503. Tungku nan tigo sajarangan, tali nan tigo sapilin.
Tiga aturan di Minangkabau yang harus ditaati oleh masyarakat, yakni Adat, Syarak dan Pemerintah.
504. Tumbuah dicupak dililisi, tibo diundang dikurasai, kalau takilan dalam hati, lah patuik kini dikurasai.
Ketiga-tiga aturan yang berjalin menjadi satu dalam diri orang Minangkabau, perlu sama-sama diperdalam dan dipelajari.
505. Talangkah suruik, sasek kumbali, baitu faham handaknyo, kato rang tuo indak dituruik binaso badan kasudahannyo.
Segala nasehat dan pelajaran yang baik dari orang tua harus dituruti kalau tidak kita sendiri akan binasa.
506. Tiok nagari basuku-suku, nan suku babuah paruik, kato adaik mangko baitu,urang tuo lah lamo hiduik.
Ajaran adat menekankan yang demikian karena orang tua hidupnya telah lama, pengalamannya telah banyak.
507. Tunggau disubarang lautan nampak, gajah dipalupuak mato indak kalihatan.
Seseorang yang tahu menyalahkan orang lain, tetapi lupa melihat kesalahannya sendiri.
508. Tak sio-sio tampuo basarang randah, kalau indak ado ba-ado.
Jangan disangka sesuatu yang dibiarkan begitu saja nampaknya, tetapi pasti ada orang yang mengangawasinya.
509. Tagisia labiah bak kanai, tasingguang labiah bak jadi.
Seseorang yang dalam perasaannya, dan jauah jangkauan pikirannya terhadap kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi.
510. Tasisiah atah jo bareh, basibak kumpai jo kiambang.
Dalam duduk bersama akan nyata bedanya antara orang berpengetahuan dan ber-ilmu dari pada orang yang tidak berpengetahuan.
512. Tabik pantang tarubah, biaso jadi parangai, lah tuo jadi pakaian.
Sifat yang baik dan buruk kalau telah dibiasakan semenjak kecil akan berbekas sampai dihari tua.
513. Tibo dikandang kabau manguek, tibo dikandang kambiang mambebek, dikandang bantiang malanguah.
Setiap kita harus pandai menyesuaikan diri dimana saja kita berada, dengan mengetahui adat istiadat setempat.
514. Tak baban batu digaleh, umua habih jaso indak ado.
Seseorang yang mengerjakan pekerjaan yang tidak mendatangkan hasil.
515. Tunjuak luruih kalingkiang bakaik, papek dilua runciang didalam.
Orang yang selalu bermuka baik dan bermulut manis tetapi hatinya busuk dan dengki.
516. Taranbau diimpik janjang, lah seso sansaro tibo.
Seseorang yang mendapat kesengsaraan yang datang bertubi-tubi.
517. Tangsi curup muaro aman, lebong dibukak dek maskapai. Bundo kanduang taguahkan iman, malapeh anak dagang sansai.
Kata-kata pantun seorang anak diwaktu hendak berpisah dengan kampung halaman.
518. Ukua jo jangko kok indak tarang, susunan niniak moyang kito. Dek rancak kilek loyang datang, intan disangko kilek kaco.
Kebudayaan asli akan dikalahkan setidak-tidaknya akan dipengaruhi oleh kebudayaan asing, kalau kiranya tidak mencintai dan mengamalkan kebudayaan sendiri.
519. Urang tuo saundang-undang, panghulu sabuah hukum, candiko pandai batenggang, budiman sifat panyantun.
Sifat yang harus dimiliki oleh orang tua da pemimpin, cendekia dan para budiman.
520. Uraian barih jo balabeh, sahinggo durian ditakuak rajo, supayo budi samo marateh, usaho galian dek basamo.
Untuk kembali kebudayaan menjadi kecintaan dan penghayatan masyarakat, perlu kerja sama yang baik semua pihak.
521. Umpamo jawi balang puntuang, didulukan inyo manyipak, dikamudiankan inyo mananduak.
Sifat seseorang yang tidak baik, mau menang sendiri, yang tidak memikirkan keselamatan orang lain, yang jadi persoallan baginya selalu dia kemukakan, sedang dia tidak mempunyai kemampuan.
522. Umpamo kancah laweh arang, umpamo tabu saruweh.
Seseorang suka bicara tanpa memikirkan orang lain tersinggung, banyak bicara tapi tidak bisa kerja.
523. Urang pambagih gadang hutang, urang pandareh lakeh kanai, urang pancameh mati jatuah, urang pandingin mati hanyuik.
Sifat dalam bertindak dan berbuat tanpa dipikirka semasak-masaknya selalu tergesa gesa, menemui akibat yang tidak baik.
524. Urang pamanggok lapa paruik, urang parentak gadang kanai.
Seseorang yang mudah tersinggung, dan pemarah juga sifat yang harus dihindarkan.
525. Usua samo dipamain, cabua samo dibuang.
Setiap kejadian harus diselidiki lebih jauh dan dihindarkan membuat kerja cabul.
526 . Undang-undang nan duo baleh, ganti tuladan dek panghulu, itulah suri nan tarantang Cupak kok dipapek rang mangaleh, jalan kok diasak rang lalu, tikamkan karih nan dipinggang.
Kebudayaan asli bangsa harus kita pertahankan dengan segala tenaga dan kekuatan yang ada walau dengan nyawa sekalipun.
527. Urang Makkah mambao taraju, urangBagdadmambao talu, dimakan bulan puaso. Rumah gadang basandi batu, adat basandi dengan alua, itulah kaganti rajo.
Ajaran Adat Minangkabau dikiaskan dengan kenyataan, seperti rumah bersendi batu kuat dan kokoh dan bersendi alur atau kebenaran yang tidak ada bandingannya yakni ( Syarak ).
528. Ula lalok nan usah dijagokan, aia nan tanang usah dikaruahi.
Janganlah berbuat pekerjaan yang sia-sia dan berbahaya, dan menimbulkan kekeruhan dalam masyarakat.
529. Umua panjang batungkek sabuak, usah takasiah dalam hiduik.
Pikirkanlah ekonomi dan kesayangan orang dihari tua, jangan bersifat boros dalam hidup.
530. Usang-usang dibarui, lapuak-lapuak dikajangi.
Adat sebagai kebudayaan dan sebagai budi pekerti, terus dikembangkan dan dibina.
Continue Reading...

Pepatah Petitih Minangkabau (Part 5)

401. Nagari bapaga undang, kampuang bapaga buek, tiokmlasuang ba ayam gadang, salah tampuah buliah diambok.
Patuhilah norma-norma yang berlaku didalam masyarakat, karena setiap masyarakat mempunyai normanya sendiri-sendiri.
402. Niniak moyang di duo koto, mambuek barih jo balabeh, Bulek dek tuah lah sakato, nak tantu hinggo jo bateh.
Patuhilah keputusan bersama yang telah dibuat oleh pemuka kita, oleh masyarakat dan sipembuat peraturan sendiri.
403. Nan barek samo dipikua, nan ringan samo dijinjiang.
Didalam adat selalu dianjurkan agar setiap pekerjaan yang baik dikerjakan secara bersama.
404. Nansakik iyolah kato, nan padiah iyolah rundiang. Dek tajam nampak nan luko, dek kato hati taguntiang.
Perkataan yang menyakiti lebih berbahaya dari pisau yang tajam.
405. Nansakik iyo lah kato, nan malu iyolah tampak.
Kata-kata yang berbisa, sama dengan rasa seseorang yang tahu harga dirinya mendapat malu.
406. Nan mudo biaso bimbang, manaruah rambang jo ragu, kalau batimbo ameh datang, lungga lah ganggam nan dahulu.
Meniru-niru kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan kepribadian kita, akan menghilangkan kemurnian kebudayaan sendiri dan kehilangan pegangan.
407. Nan dikatokan kato pusako, iyolah kato undang-undang. Dek lamo tak namuah lupo manjadi padoman pagi jo patang.
Bagi orang Minang yang memahami ajaran yang terkandung didalam adatnya, tidak bisa diabaikan dan dilupakan, bahkan menjadi pegangan dan pedoman dalam hidup.
408. Nak elok lapangkan hati, nak haluih baso jo basi.
Agar menjadi orang baik dan disegani selalulah bersifat sabar, dan baik budi bahasa.
409. Nak luruih rantangkan tali, luruih bana dipacik sungguah.
Selalulah bersifat lurus dan tulus ikhlas dalam pergaulan, yakni selalu bersifat benar dan jujur.
410. Naiaklah dari janjang, turunlah dari tanggo.
Selalulah berbuat sesuai aturan dan undang-undang yang berlaku, menurut adat dan agama Islam serta pemerintah.
411. Nanang saribu aka, haniang ulu bicaro, pikia palito hati, dek saba bana mandatang.
Ketenangan dalam berpikir, menimbulkan aspirasi yang baik, dan kesabaran mendatangkan kebenaran.
412. Nak tahu digadang kayu caliak kapangkanyo, nak tahu digadang ombak caliak kapasianyo.
Kalau ingin menilai kebesaran atau kebaikan seseorang bergaullah dengan dia.
413. Nan bak mananti aia ilia, nan bak manutuik manggih langkeh.
Seseorang yang mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin dapat diperolehnya.
414. Nan bak banang dilando ayam, nan bak bumi diguncang gampo.
Suatu musibah yang datang menimpa dengan tiba-tiba, yang tidak diduga sama sekali sehingga timbul kekacauan dan kepanikan.
415. Nan elok dek awak katuju dek urang, sakik dek awak sakik dek urang.
Berbuatlah dalam segala perbuatan gerak dan perilaku yang disenangi oleh orang banyak.
416. Nan mudo pambimbiang dunia, nan capek kaki ringan tangan, acang-acang dalam nagari.
Pemuda harapan bangsa ditangan pemuda terletak maju mundurnya bangsa dimasa depan.
417. Nak jan jauah panggang dari api, latakkan sasuatu ditampeknyo.
Agar suatu tindakkan dalam masyarakat tepat pada sasarannya maka serahkanlah sesuatu kepada ahlinya.
418. Nan tahu dikayu tinggi alang, nan tahu diposo-poso ayam, nan tahu dikili-kili banting.
Yang mengetahui diseluk beluk dan sifat masyarakat suatu negeri adalah para cendekiawan negeri tersebut.
419. Ombak barayun manuju pantai, riak nyato manuju tapi. Indak guno jadi rang pandai, kalau baulemu indak babudi.
Tak ada arti menjadi seorang pandai kalau tidak mempunyai budi pekerti, karena hancur masyarakat karena kepandaiannya.
420. Ombak ditantang manuju pulau, laia dikambang manantang angin.
Untuk mencapai suatu tujuan dan cita-cita senantiasa mengalami cobaan dan rintangan
421. Olok-olok mambao sansai, garah-garah jadi binaso.
Perbuatan dan tingkah laku yang tidak pada tempatnya, akan membawa akibat yang merugikan.
422. Olak olai rang basiang, sorak sorai rang karimbo.
Suatu kebiasaan diwaktu beramai-ramai bekerja, timbul kelakar dan gembira, untuk kegairahan dalam bekerja.
423. Pulau pandan jauah ditangah, dibaliak pulau angso duo, hancua badan dikanduang tanah, budi baiak dikana juo.
Budi bukan hanya diingat sampai mati tetapi akan diperhitungkan dan diingat dibalik lahad.
424. Pisang ameh baok balaia, masak sabuah didalam peti, hutang ameh dapek dibaia, hutang budi dibao mati.
Hutang emas dan perak dapat dibayar tetapi hutang budi dibawa mati.
425. Pucuak pauah sadang tajelo, panjuluak buah ligundi, nak jauah silang sangketo, pahaluih baso jo basi.
Agar terjauh dari silang sengketa dalam pergaulan perbaikilah budi dan bahasa, pakai sifat sopan dan santun.
426. Pado pai suruik nan labiah, samuik tapijak indak mati, alu tataruang patah tigo.
Kata kiasan terhadap pemuda pumudi Minang yang mempunyai ketenangan tetapi tegas dan bijaksana tentang ketangkasannya dan tinggi budinya.
427. Padi disisiak jo hilalang, tapuang dicampua jo sadah.
Perbuatan kebaikan dicampur dengan perbuatan kejahatan.
428. Padi ditanam padi tumbuah, lalang ditanam lalang tumbuah.
Kebaikan yang diperbuat oleh seseorang akan berbalas dengan kebaikan, begitu juga sebaliknya.
429. Padi dikabek jo daunnyo, batang ditungkek jo dahannyo.
Kebijaksanaan yang dipakai oleh seseorang didalam memimpin anak kemenakan, untuk menggongkosinya dicari suatu usaha.
430. Papek dilua runciang didalam, talunjuak luruih kalingkiang bakaiek.
Sifat yang sangat tercela, mulut manis tetapi hati jahat, dan berbisa.
431. Pikia palito hati, tanang hulu bicaro.
Pikiran yang mempunyai pertimbangan adalah penangkal lampu yang menerangi bagi hati, dan ketenangan akan mengeluarkan bicara yang berguna.
432. Pilin kacang nak mamanjek, pilin jariang nak barisi.
Seseorang yang berusaha dengan cara yang tidak benar untuk mendapatkan sesuatu.
433. Panjeklah batang tinggi-tinggi, basuo pucuak silaronyo, kalilah urek dalam-dalam basuo urek tunggang jo isinyo.
Seseorang yang benar-benar mendalami ajaran adat Minangkabau, dengan menelaah kalimat demi kalimat dari filsafatnya, dia akan peroleh mutiara berharga untuk kehidupan.
434. Putiah manahan sasah, hitam manahan tapo.
Yang dikatakan kebenaran boleh tahan uji, asal orang yang waras semua mengatakan benar.
435. Padanggantiang baranah-ranah, kahilia jalan kapianggu, sasimpang jalan kasikabu Duduak samo randah tagak samo tinggi dalam adat Minangkabau.
Didalam ajaran adat manusia tidak berkasta, tetapi yang membedakan budi dan jabatan yang dipilih bersama.
436. Pulai batingkek naiak, maninggakan ruweh jo buku, manusia batingkek turun, maninggakan barih jo balabeh
Setiap pribadi menurut ajaran adat Minangkabau haruslah berusaha meninggalkan jasa yang baik terhadap anak cucu dan masyarakat.
437. Partamo banamo Minang, Minangkabau namo kaduo, nan kayo mandi baranang, nan bansaik bandi batimbo.
Didalam menghadapi kerja bersama haruslah ikut serta setiap orang menurut kemampuannya masing-masing untuk pengorbanan
438. Partamo cupak usali, kaduo cupak buatan. Kalau dulu disasali manjadi tuah panda- patan.
Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.
439. Patah de mamapek, maja de mangilia, dek harum talalu angik.
Sesuatu pekerjaan yang dikerjakan, atau pengajaran terhadap seseorang terlalu melampaui batas hingga tidak mencapai hasil yang diharapkan.
440. Pucuak dicinto ulam tibo, sumua dikali aia dapek.
Seseorang yang mencinta sesuatu yang dirindukan tiba-tiba datang dengan segera.
441. Panakiak pisau sirauik, ambiak galah batang lintabuang, silodang ambiak kaniru, satitiak jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang alam takambang jadi guru.
Adat Minangkabau dipelajari oleh nenek moyang dahulunya, dari ketentuan alam terkembang jadi guru.
442. Partamo lareh nan tinggi, kaduo lareh nan bunta, kalau tak pandai kito mambimbiang indak katantu sah jo bata.
Bagi seorang bapak/mamak di Minangkabau kalau tidak memberikan bimbingan sungguh-sungguh terhadap anak kemenakan, tidaklah diketahuinya sah dan batal.
443. Pandai mangulai ambuang-ambuang, bak umpamo gulai kincuang, baunnyo maimbau imbau, tapi rasonyo amba sajo.
Seseorang yang senantiasa berjanji muluk, tetapi sekalipun tidak terpenuhi.
444. Pangka kusuik ujuang bakaruik, ikua kupiak kapalo randah.
Seseorang yang selalu bersifat ragu dan enggan karena kurang pengetahuan dan pengecut.
445. Pandai batanam tabu dibibia, pandai baminyak aia.
Orang yang selalu bermulut manis, tetapi di hatinya bersarang dengki dan khianat.
446. Pusek jalo kumpulan ikan, pucuak usah tarateh, urek ijan taganjak.
Pimpinan seperti ibu dan bapak, guru, merupakan tumpukan dari segala contoh baik dan buruk bagi anak-anaknya.
447. Pasa jalan dek batampuah, lanca kaji dek ba ulang.
Pengetahuan didapat dengan dipelajari, untuk lebih praktis harus diamalkan dalam kehidupan.
448. Pandai karano batanyo, tahu karano baguru.
Pengetahuan diperdapat karena belajar, pendidikan dan banyak bertanya kepada orang yang tahu.
449. Panjang namuah dikarek senteng namuah dibilai, singkek namuah diuleh, kurang namuah ditukuak.
Sebaik-baik manusia mau menerima nasehat dari pada orang lain dan menggakui kelemahannya.
450. Rarak kalikih dek minalu, tumbuah sarumpun jo kayu kalek. Kok habih raso jo malu bak kayu lungga pangabek.
Kalau rasa malu telah hilang dari manusia, maka manusia itu sulit untuk diarahkan kepada kebaikan, dan sulit untuk menyusun masyarakat.
451. Ratak indak mambao caro, rannyuak nan indak mambao hilang.
Persengketaan dalam rumah tangga dan keluarga, jangan mengakibatkan putusnya hubungan kekeluargaan.
452. Rumah tampak jalan indak tantu, angan lalu faham tatumbuak.
Seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu, tetapi tidak mendapat jalan dan pengetahuan untuk mencapainya.
453. Raso aia kapamatang, raso minyak kakuali, nan bakabek rasan tali, nan babungkuih rasan daun.
Seseorang yang mempunyai hubungan kekeluargaan, sedarah, sekampung, senagari, senegara, dia akan selalu berpihak dalam pembelaan keluarga.
454. Rumah indak batungganai, kappa nan indak banangkodoh.
Masyarakat atau keluarga yang tidak mempunyai pemimpin, sama halnya seumpama kapal tanpa nakhoda.
456. Rumah gadangbaribapintu, nak tarang jalan kahalaman, kalau dikumpa saleba kuku jikok dikambang saleba alam.
Ajaran adat Minangkabau akan dapat dimamfaatkan untuk mengatur masyarakat, semenjak dari yang kecil seperti keluarga, sampai kepada yang lebih besar seperti negara dan dunia.
457. Riwayaik jambi lah tasabuik, panjang tajelo disilukah, barih balabeh mangkonyo cukuik, sampai ka hulu baru sudah.
Ajaran adat Minangkabau dengan segala persoalannya dapat dipahami apabila didalami. Adat sebagai kebudayaan dan adat sebagai budi pekerti.
458. Rupo mangatokan harago, kurenah manunjuakan laku, walau nan lahia tampak dek mato, nan bathin tasimpan dalam itu.
Kalau dipelajari ajaran adat yang dihimpun dalam pepatah petitih, mamang dan bidal, mengandung arti lahir dan bathin.
459. Raso dibaok naiak, pareso dibaok turun.
Pembinaan pribadi yang baik hendaklah dimulai dalam lingkungan anak kemenakan.
460. Raso kabarek dilapehkan, raso kasulik dielakkan, bak cando mangganggam baro.
Seseorang yang tidak bertanggung jawab kepada tugas dan kewajibannya.
461. Surang makan cubadak, sadonyo kanai gatahnyo, saikua kabau bakubang sakandang kanai luluaknyo.
Sesuatu perbuatan yang tercela menurut adat dan agama di Minangkabau yang dikerjakan oleh seorang anggota masyarakat, maka malu dirasakan oleh seluruh anggota kaum yang lain.
462. Sio-sio- nagari alah, kalau cilako utang tumbuah.
Pekerjaan yang sia-sia dan berbahaya akan mengakibatkan kerugian bersama, berbuat salah mengakibatkan terjadinya hutang.
463. Sayang di anak dilacuti, sayang di kampuang ditinggakan.
Kalau sayang kepada anak jangan dibiarkan dia mengerjakan yang tidak baik, harus dimarahi. Kalau cinta sama kampung harus ditinggalkan untuk mencari pengetahuan untuk disumbangkan akhirnya kelak.
464. Sadang manyalam minum aia, sadang badiang nasi masak.
Sesuatu pekerjaan yang dapat dikerjakan sambil lalu, dengan tidak mengurangi kepada pekerjaan yang sedang dilakukan.
465. Senteang bilai mambilai, panjang karek mangarek.
Hendaklah memberikan pertolongan kepada teman yang sedang dalam kesusahan, dan memberi nasehat kalau dia terlanjur.
466. Satitiak jadikan lauik, sakapa jadikan gunuang.
Berusahalah dengan dasar pengetahuan yang ada untuk melanjutkan mencapai pengetahuan yang lebih tinggi.
467. Suri tagantuang ditanuni, luak taganang kito sauak.
Tentang ajaran adat yang secara mutlak dilaksanakan, tanpa dimusyawarahkan.
468. Sakalam kalam hari sabuah bintang bacahayo juo.
Tidak seluruh orang keluar dari garis kebenaran, sekurang-kurangnya satu orang ada yang menegakkannya.
469. Sabanta sakalang hulu, salapiak sakatiduran.
Dua orang berteman secara akrab yang sulit untuk dipisahkan.
470. Sandi banamo alua adat, tonggak banamo kasandaran.
Hikmah rumah adat di Minangkabau, yang sendinya kebenaran bersama, sandaran kuat hukum adatnya.
471. Sasiuak namuah ka api, salewai namuah ka aia.
Seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak baik.
472. Satali pambali kumayan, sakupang pambali katayo, sakali lancuang kaujian, salamo hiduik urang indak picayo.
Haruslah bersifat jujur dan benar dalam pergaulan, kalau kelihatan kecurangan satu kali selamanya orang tidak percaya lagi.
473. Syarak banamo lazim, adat nan banamo kewi, habih tahun baganti musim, buatan nan usah diubahi.
Bagaimanapun kesulitan yang dihadapi, kesengsaraan yang dialami, tetapi keputusan bersama jangan dirobah.
474. Siang manjadi tungkek, malam manjadi kalang.
Hendaklah pegang dan amalkan setiap pelajaran yang baik dan nasehat orang tua.
475. Sungguahlah kokoh adat Minang, mambuek adat jo limbago, malangnyo panjajah datang, rusaklah adat dibueknyo.
Adat Minang yang kuat dan kokoh dulunya telah banyak dirusak oleh penjajah dizaman lampau.
476. Satuntuang tabu dek ulek, satuntuang sajo kito buang.
Seorang berbuat salah jangan semua keluarga dibenci.
477. Sirauik tajam batimba, tak ujuang pangka manganai, sudu-sudu batimba jalan, ditakiak kanai gatahnyo. Kalauik tuah takaba, bumi jo langik nan mananai. Duduak dikampuang jan umbilan, kandang buek tumpuan tanyo.
Seharusnya setiap orang Minangkabau mengetahui tentang seluk beluk filsafat adatnya, karena semua bangsa mengenal keunikan adat Minangkabau itu, terutama tentang sistim kekerabatannya dan matrilinialnya.
478. Siriahlah pulang kagagang, pinanglah suruik katampuaknyo. Karih baliak kasaruangnyo, baju tasaruang ka nan punyo, ameh pulang katambangnyo.
Suatu benda berharga yang sudah lama tidak ditemui, sekarang kembali kepada yang empunya semula, seperti merebut tanah air dari tangan penjajah, sampai kita merdeka.
479. Sadang baguru kapalang aja, lai bak bungo kambang tak jadi. Kunun kok dapek dek mandangga, tidak didalam dihalusi.
Setiap menuntut pengetahuan jangan putus ditengah, dan kurang mamfaatnya dengan mendengar saja, kalau dibandingkan dengan belajar sesungguhnya.
480. Sabab karano dek baitu, tumbuahlah niaik dalam hati, nak manuruik tambo nan dahulu sajarah adat nan usali.
Kalau ajaran adat telah dapat dipahami kemana masyarakat hendak dibawa oleh ajaran adat itu maka akan timbullah hasrat untuk mendalamnya.
481. Sangajo guno diuraikan, kahadapan nan basamo, untuak nak samo dipikiakan, nak samo dirunuak nan tujuan.
Penggugah hati para pembaca terutama putra Minang untuk mendalami filsafat adatnya.
482. Satinggi-tinggi malantiang, mambubuang ka awang-awang, suruiknyo katanah juo. Sahabih dahan jo rantiang, dikubak dikulik batang, tareh panguba barunyo nyato.
Adat Minangkabau tidak akan bisa dipahami secara baik, apalagi untuk dihayati dan diamalkan tanpa mendalami sungguh-sungguh.
483. Santan babaleh jo tubo, nikmat babaleh jo sansaro.
Kebaikan yang pernah diberikan seseorang kepada orang lain, tetapi balasannya dengan yang buruk.
484. Saumpamo aua jo tabiang, umpamo ikan jo aia.
Pergaulan yang baik saling bantu membantu dan kuat menguatkan, dan saling membutuhkan.
485. Sikujua baladang kapeh, kambanglah bungo karawitan. Kok mujua mandeh malapeh bak ayam pulang kapautan.
Setiap orang pergi merantau mengharapkan kehidupan yang baik dan pendapatan yang akan dibawa kekampung halaman.
486. Tak lakang dek paneh tak lapuak dek hujan, dianjak tak layua, dibubuik tak mati.
Kebenaran yang dikandung oleh Adat Minangkabau, karena ajarannya bersumber dari ketentuan alam yang disusun jadi pepatah yang senantiasa kebenarannya tidak dapat dibantah.
487. Tabujua lalu tabalintang patah.
Untuk mempertahankan kebenaran hendaklah dengan kegigihan yang sungguh-sungguh.
488. Tarandam-randam indak basah, tarapuang-apuang indak hanyuik.
Sesuatu perkara yang tidak jelas duduknya, selesai tidak diusutpun tidak.
489. Tak ujuang pangka mangganai, saragi baliak batimba.
Seseorang yang mempunyai pengetahuan dan alat-alat yang lengkap, yang dapat dipakai serba guna.
490. Tasingguang kanai miangnyo, tagisia kanai rabehnyo.
Kesalahan yang dibikin oleh seseorang, merembet-rembet kepada orang lain.
491. Tak siriah pinang mamalan, tak pasin anguakpun tibo.
Seseorang yang pandai mengikat seseorang dengan suatu perhitungan.
492. Tak laju bandiang mamacah, tak lalu dandang di aia, digurun ditajakkan juo.
Seseorang yang berpikiran jahat kepada orang lain, dia selalu berusaha untuk melaksanakan dimana dan kapan saja.
493. Tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo minum ambun, tarapuang samo hanyuik, tarandam samo basah.
Kerja sama yang baik dalam masyarakat, kesatuan hati dan pikiran, kesatuan pendapat dan gerak adalah pokok utama.
494. Titiak buliah ditampuang, maleleh buliah dibaliak.
Hasil kerja sama yang baik ini akan dapat dinikmati bersama oleh orang banyak.
495. Tagak indak tasundak, malenggang indak tapampeh.
Seseorang pemimpin yang punya wewenang penuh dan wibawa.
496. Talalok talalu mati, manyuruak talalu hilang.
Seorang pandai yang meinsulirkan diri dari masyarakat dan tak ingin bertanggung jawab.
497. Tinggi lonjak gadang galapuah, nan lago dibawah sajo.
Sifat seseorang yang senantiasa segala pandai dihadapan orang yang tak tahu, tetapi sebenarnya kosong belaka.
498. Tampek bagantuang nan lah sakah, bakeh bapijak nan lah taban.
Kehilangan orang yang akan membimbing dan membela, si anak kehilangan ayahnya.
499. Talangkang carano kaco, badarai carano kendi, padi nan samo rang gantangkan. Bacanggang karano budi, bacarai karano baso, itu nan samo rang pantangkan.
Berpisah dan berpecah hati satu dengan yang lain akibat budi telah rusak dan karena kurang sopan sangat tidak di ingini dalam adat Minangkabau dalam bergaul dengan siapa saja.
500. Hiduik batungkek batang bodi, mati bapuntiang ditanah sirah. Jikok pandai bamain budi, dalam aia badan indak basah.
Dalam pergaulan kalau budi selalu diamalkan dan menjadi perhatian terhadap diri dan orang lain, keuntungannya sangat banyak sekali.
Continue Reading...

Pepatah Petitih Minangkabau (Part 4)

301. Nan salajang kudo balari, nan sahentak kuciang malompek.
Panjang rumah adat yang menjadi kebanggaan masyarakatnya.
302. Nan basasok bajarami, nan bapandan bapakuburan, soko pusako kalau tadalami, mambayang cahayo diinggiran.
Mendalami ajaran adat Minang dan filsafatnya serta dapat diamalkan dalam pergaulan akan menggangkat martabat kemanusianya.
303. Nan tuo dihormati, nan ketek di sayangi, samo gadang baok bakawan.
Selalulah menghormati orang tua, lebih-lebih ibu dan bapak dan orang tua umurnya dari kita, sayangi anak-anak, hormat menghormat sama sebaya.
304. Nan suku babuah paruik, korong kampuang didalam jurai, dek urang tuo lah lamo hiduik, dunialah lamo inyo pakai.
Menghormati orang tua dari kita umurnya, bukan tergantung kepada ilmu dan kepandaiannya saja, tetapi karena ketuaannya.
305. Nagari bapaga undang, kampuang bapaga buek, tiokmlasuang ba ayam gadang, salah tampuah buliah diambok.
Patuhilah norma-norma yang berlaku didalam masyarakat, karena setiap masyarakat mempunyai normanya sendiri-sendiri.
306. Niniak moyang di duo koto, mambuek barih jo balabeh, Bulek dek tuah lah sakato, nak tantu hinggo jo bateh.
Patuhilah keputusan bersama yang telah dibuat oleh pemuka kita, oleh masyarakat dan sipembuat peraturan sendiri.
307. Nan barek samo dipikua, nan ringan samo dijinjiang.
Didalam adat selalu dianjurkan agar setiap pekerjaan yang baik dikerjakan secara bersama.
308. Nan sakik iyolah kato, nan padiah iyolah rundiang. Dek tajam nampak nan luko, dek kato hati taguntiang.
Perkataan yang menyakiti lebih berbahaya dari pisau yang tajam.
309. Nan sakik iyo lah kato, nan malu iyolah tampak.
Kata-kata yang berbisa, sama dengan rasa seseorang yang tahu harga dirinya mendapat malu.
310. Nan mudo biaso bimbang, manaruah rambang jo ragu, kalau batimbo ameh datang, lungga lah ganggam nan dahulu.
Meniru-niru kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan kepribadian kita, akan menghilangkan kemurnian kebudayaan sendiri dan kehilangan pegangan.
311. Nan dikatokan kato pusako, iyolah kato undang-undang. Dek lamo tak namuah lupo manjadi padoman pagi jo patang.
Bagi orang Minang yang memahami ajaran yang terkandung didalam adatnya, tidak bisa diabaikan dan dilupakan, bahkan menjadi pegangan dan pedoman dalam hidup.
312. Nak elok lapangkan hati, nak haluih baso jo basi.
Agar menjadi orang baik dan disegani selalulah bersifat sabar, dan baik budi bahasa.
313. Nak luruih rantangkan tali, luruih bana dipacik sungguah.
Selalulah bersifat lurus dan tulus ikhlas dalam pergaulan, yakni selalu bersifat benar dan jujur.
314. Naiaklah dari janjang, turunlah dari tango.
Selalulah berbuat sesuai aturan dan undang-undang yang berlaku, menurut adat dan agama Islam serta pemerintah.
315. Nanang saribu aka, haniang ulu bicaro, pikia palito hati, dek saba bana mandatang.
Ketenangan dalam berpikir, menimbulkan aspirasi yang baik, dan kesabaran mendatangkan kebenaran.
316. Nak tahu digadang kayu caliak ka pangkanyo, nak tahu di gadang ombak caliak ka pasianyo.
Kalau ingin menilai kebesaran atau kebaikan seseorang bergaullah dengan dia.
317. Nan bak mananti aia ilia, nan bak manutuik manggih langkeh.
Seseorang yang mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin dapat diperolehnya.
318. Nan bak banang dilando ayam, nan bak bumi diguncang gampo.
Suatu musibah yang datang menimpa dengan tiba-tiba, yang tidak diduga sama sekali sehingga timbul kekacauan dan kepanikan.
319. Nan elok dek awak katuju dek urang, sakik dek awak sakik dek urang.
Berbuatlah dalam segala perbuatan gerak dan perilaku yang disenangi oleh orang banyak.
320. Nan mudo pambimbiang dunia, nan capek kaki ringan tangan, acang-acang dalam nagari.
Pemuda harapan bangsa ditangan pemuda terletak maju mundurnya bangsa dimasa depan.
321. Nak jan jauah panggang dari api, latakkan sasuatu ditampeknyo.
Agar suatu tindakkan dalam masyarakat tepat pada sasarannya maka serahkanlah sesuatu kepada ahlinya.
322. Nan tahu dikayu tinggi alang, nan tahu diposo-poso ayam, nan tahu dikili-kili banting.
Yang mengetahui diseluk beluk dan sifat masyarakat suatu negeri adalah para cendekiawan negeri tersebut.
323. Ombak barayun manuju pantai, riak nyato manuju tapi. Indak guno jadi rang pandai, kalau baulemu indak babudi.
Tak ada arti menjadi seorang pandai kalau tidak mempunyai budi pekerti, karena hancur masyarakat karena kepandaiannya.
324. Ombak ditantang manuju pulau, laia dikambang manantang angin.
Untuk mencapai suatu tujuan dan cita-cita senantiasa mengalami cobaan dan rintangan
325. Olok-olok mambao sansai, garah-garah jadi binaso.
Perbuatan dan tingkah laku yang tidak pada tempatnya, akan membawa akibat yang merugikan.
326. Olak olai rang basiang, sorak sorai rang karimbo.
Suatu kebiasaan diwaktu beramai-ramai bekerja, timbul kelakar dan gembira, untuk kegairahan dalam bekerja.
327. Pulau pandan jauah ditangah, dibaliak pulau angso duo, hancua badan dikanduang tanah, budi baiak dikana juo.
Budi bukan hanya diingat sampai mati tetapi akan diperhitungkan dan diingat dibalik lahad.
328. Pisang ameh baok balaia, masak sabuah didalam peti, hutang ameh dapek dibaia, hutang budi dibao mati.
Hutang emas dan perak dapat dibayar tetapi hutang budi dibawa mati.
329. Pucuak pauah sadang tajelo, panjuluak buah ligundi, nak jauah silang sangketo, pahaluih baso jo basi.
Agar terjauh dari silang sengketa dalam pergaulan perbaikilah budi dan bahasa, pakai sifat sopan dan santun.
330. Pado pai suruik nan labiah, samuik tapijak indak mati, alu tataruang patah tigo.
Kata kiasan terhadap pemuda pumudi Minang yang mempunyai ketenangan tetapi tegas dan bijaksana tentang ketangkasannya dan tinggi budinya.
331. Padi disisiak jo hilalang, tapuang dicampua jo sadah.
Perbuatan kebaikan dicampur dengan perbuatan kejahatan.
332. Padi ditanam padi tumbuah, lalang ditanam lalang tumbuah.
Kebaikan yang diperbuat oleh seseorang akan berbalas dengan kebaikan, begitu juga sebaliknya.
333. Padi dikabek jo daunnyo, batang ditungkek jo dahannyo.
Kebijaksanaan yang dipakai oleh seseorang didalam memimpin anak kemenakan, untuk menggongkosinya dicari suatu usaha.
334. Papek dilua runciang didalam, talunjuak luruih kalingkiang bakaiek.
Sifat yang sangat tercela, mulut manis tetapi hati jahat, dan berbisa.
335. Pikia palito hati, tanang hulu bicaro.
Pikiran yang mempunyai pertimbangan adalah penangkal lampu yang menerangi bagi hati, dan ketenangan akan mengeluarkan bicara yang berguna.
336. Pilin kacang nak mamanjek, pilin jariang nak barisi.
Seseorang yang berusaha dengan cara yang tidak benar untuk mendapatkan sesuatu.
337. Panjeklah batang tinggi-tinggi, basuo pucuak silaronyo, kalilah urek dalam-dalam basuo urek tunggang jo isinyo.
Seseorang yang benar-benar mendalami ajaran adat Minangkabau, dengan menelaah kalimat demi kalimat dari filsafatnya, dia akan peroleh mutiara berharga untuk kehidupan.
338. Putiah manahan sasah, hitam manahan tapo.
Yang dikatakan kebenaran boleh tahan uji, asal orang yang waras semua mengatakan benar.
339. Padang gantiang baranah-ranah, kahilia jalan kapianggu, sasimpang jalan kasikabu, duduak samo randah tagak samo tinggi dalam adat Minangkabau.
Didalam ajaran adat manusia tidak berkasta, tetapi yang membedakan budi dan jabatan yang dipilih bersama.
340. Pulai batingkek naiak, maninggakan ruweh jo buku, manusia batingkek turun, maninggakan barih jo balabeh
Setiap pribadi menurut ajaran adat Minangkabau haruslah berusaha meninggalkan jasa yang baik terhadap anak cucu dan masyarakat.
341. Partamo banamo Minang, Minangkabau namo kaduo, nan kayo mandi baranang, nan bansaik bandi batimbo.
Didalam menghadapi kerja bersama haruslah ikut serta setiap orang menurut kemampuannya masing-masing untuk pengorbanan
342. Partamo cupak usali, kaduo cupak buatan. Kalau dulu disasali manjadi tuah pandapatan.
Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.
343. Patah de mamapek, maja de mangilia, dek harum talalu angik.
Sesuatu pekerjaan yang dikerjakan, atau pengajaran terhadap seseorang terlalu melampaui batas hingga tidak mencapai hasil yang diharapkan.
344. Pucuak dicinto ulam tibo, sumua dikali aia dapek.
Seseorang yang mencinta sesuatu yang dirindukan tiba-tiba datang dengan segera.
345. Panakiak pisau sirauik, ambiak galah batang lintabuang, silodang ambiak ka niru, satitiak jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang alam takambang jadi guru.
Adat Minangkabau dipelajari oleh nenek moyang dahulunya, dari ketentuan alam terkembang jadi guru.
346. Partamo lareh nan tinggi, kaduo lareh nan bunta, kalau tak pandai kito mambimbiang indak katantu sah jo bata.
Bagi seorang bapak/mamak di Minangkabau kalau tidak memberikan bimbingan sungguh-sungguh terhadap anak kemenakan, tidaklah diketahuinya sah dan batal.
347. Pandai mangulai ambuang-ambuang, bak umpamo gulai kincuang, baunnyo maimbau-imbau, tapi rasonyo amba sajo.
Seseorang yang senantiasa berjanji muluk, tetapi sekalipun tidak terpenuhi.
348. Pangka kusuik ujuang bakaruik, ikua kupiak kapalo randah.
Seseorang yang selalu bersifat ragu dan engan karena kurang pengetahuan dan pengecut.
349. Pandai batanam tabu dibibia, pandai baminyak aia.
Orang yang selalu bermulut manis, tetapi di hatinya bersarang dengki dan khianat.
350. Pusek jalo kumpulan ikan, pucuak usah tarateh, urek ijan taganjak.
Pimpinan seperti ibu dan bapak, guru, merupakan tumpukan dari segala contoh baik dan buruk bagi anak-anaknya.
351. Pasa jalan dek batampuah, lanca kaji dek ba ulang.
Pengetahuan didapat dengan dipelajari, untuk lebih praktis harus diamalkan dalam kehidupan.
352. Pandai karano batanyo, tahu karano baguru.
Pengetahuan diperdapat karena belajar, pendidikan dan banyak bertanya kepada orang yang tahu.
353. Panjang namuah dikarek senteng namuah dibilai, singkek namuah diuleh, kurang namuah ditukuak.
Sebaik-baik manusia mau menerima nasehat dari pada orang lain dan menggakui kelemahannya.
354. Rarak kalikih dek minalu, tumbuah sarumpun jo kayu kalek. Kok habih raso jo malu bak kayu lungga pangabek.
Kalau rasa malu telah hilang dari manusia, maka manusia itu sulit untuk diarahkan kepada kebaikan, dan sulit untuk menyusun masyarakat.
355. Ratak indak mambao caro, rannyuak nan indak mambao hilang.
Persengketaan dalam rumah tangga dan keluarga, jangan mengakibatkan putusnya hubungan kekeluargaan.
356. Rumah tampak jalan indak tantu, angan lalu faham tatumbuak.
Seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu, tetapi tidak mendapat jalan dan pengetahuan untuk mencapainya.
357. Raso aia kapamatang, raso minyak kakuali, nan bakabek rasan tali, nan babungkuih rasan daun.
Seseorang yang mempunyai hubungan kekeluargaan, sedarah, sekampung, senagari, senegara, dia akan selalu berpihak dalam pembelaan keluarga.
358. Rumah indak batungganai, kappa nan indak banangkodoh.
Masyarakat atau keluarga yang tidak mempunyai pemimpin, sama halnya seumpama kapal tanpa nakhoda.
359. Rumah gadang bari bapintu, nak tarang jalan kahalaman, kalau dikumpa saleba kuku jikok dikambang saleba alam.
Ajaran adat Minangkabau akan dapat dimamfaatkan untuk mengatur masyarakat, semenjak dari yang kecil seperti keluarga, sampai kepada yang lebih besar seperti negara dan dunia.
360. Riwayaik jambi lah tasabuik, panjang tajelo disilukah, barih balabeh mangkonyo cukuik, sampai ka hulu baru sudah.
Ajaran adat Minangkabau dengan segala persoalannya dapat dipahami apabila didalami. Adat sebagai kebudayaan dan adat sebagai budi pekerti.
361. Rupo mangatokan harago, kurenah manunjuakan laku, walau nan lahia tampak dek mato, nan bathin tasimpan dalam itu.
Kalau dipelajari ajaran adat yang dihimpun dalam pepatah petitih, mamang dan bidal, mengandung arti lahir dan bathin.
362. Raso dibaok naiak, pareso dibaok turun.
Pembinaan pribadi yang baik hendaklah dimulai dalam lingkungan anak kemenakan.
363. Raso kabarek dilapehkan, raso kasulik dielakkan, bak cando mangganggam baro.
Seseorang yang tidak bertanggung jawab kepada tugas dan kewajibannya.
364. Surang makan cubadak, sadonyo kanai gatahnyo, saikua kabau bakubang sakandang kanai luluaknyo.
Sesuatu perbuatan yang tercela menurut adat dan agama di Minangkabau yang dikerjakan oleh seorang anggota masyarakat, maka malu dirasakan oleh seluruh anggota kaum yang lain.
365. Sio-sio- nagari alah, kalau cilako utang tumbuah.
Pekerjaan yang sia-sia dan berbahaya akan mengakibatkan kerugian bersama, berbuat salah mengakibatkan terjadinya hutang.
366. Sayang di anak dilacuti, sayang di kampuang ditinggakan.
Kalau sayang kepada anak jangan dibiarkan dia mengerjakan yang tidak baik, harus dimarahi. Kalau cinta sama kampung harus ditinggalkan untuk mencari pengetahuan untuk disumbangkan akhirnya kelak.
367. Sadang manyalam minum aia, sadang badiang nasi masak.
Sesuatu pekerjaan yang dapat dikerjakan sambil lalu, dengan tidak mengurangi kepada pekerjaan yang sedang dilakukan.
368. Senteang bilai mambilai, panjang karek mangarek.
Hendaklah memberikan pertolongan kepada teman yang sedang dalam kesusahan, dan memberi nasehat kalau dia terlanjur.
369. Satitiak jadikan lauik, sakapa jadikan gunuang.
Berusahalah dengan dasar pengetahuan yang ada untuk melanjutkan mencapai pengetahuan yang lebih tinggi.
370. Suri tagantuang ditanuni, luak taganang kito sauak.
Tentang ajaran adat yang secara mutlak dilaksanakan, tanpa dimusyawarahkan.
371. Sakalam kalam hari sabuah bintang bacahayo juo.
Tidak seluruh orang keluar dari garis kebenaran, sekurang-kurangnya satu orang ada yang menegakkannya.
372. Sabanta sakalang hulu, salapiak sakatiduran.
Dua orang berteman secara akrab yang sulit untuk dipisahkan.
373. Sandi banamo alua adat, tonggak banamo kasandaran.
Hikmah rumah adat di Minangkabau, yang sendinya kebenaran bersama, sandaran kuat hukum adatnya.
374. Sasiuak namuah ka api, salewai namuah ka aia.
Seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak baik.
375. Satali pambali kumayan, sakupang pambali katayo, sakali lancuang kaujian, salamo hiduik urang indak picayo.
Haruslah bersifat jujur dan benar dalam pergaulan, kalau kelihatan kecurangan satu kali selamanya orang tidak percaya lagi.
376. Syarak banamo lazim, adat nan banamo kewi, habih tahun baganti musim, buatan nan usah diubahi.
Bagaimanapun kesulitan yang dihadapi, kesengsaraan yang dialami, tetapi keputusan bersama jangan dirobah.
377. Siang manjadi tungkek, malam manjadi kalang.
Hendaklah pegang dan amalkan setiap pelajaran yang baik dan nasehat orang tua.
378. Sungguahlah kokoh adat Minang, mambuek adat jo limbago, malangnyo panjajah datang, rusaklah adat dibueknyo.
Adat Minang yang kuat dan kokoh dulunya telah banyak dirusak oleh penjajah di zaman lampau.
379. Satuntuang tabu dek ulek, satuntuang sajo kito buang.
Seorang berbuat salah jangan semua keluarga dibencii.
380. Sirauik tajam batimba, tak ujuang pangka manganai, sudu-sudu batimba jalan, ditakiak kanai gatahnyo. Kalauik tuah takaba, bumi jo langik nan mananai. Duduak di kampuang jan umbilan, kandang buek tumpuan tanyo.
Seharusnya setiap orang Minangkabau mengetahui tentang seluk beluk filsafat adatnya, karena semua bangsa mengenal keunikan adat Minangkabau itu, terutama tentang sistim kekerabatannya dan matrilinialnya.
381. Siriahlah pulang kagagang, pinanglah suruik katampuaknyo. Karih baliak kasaruangnyo, baju tasaruang ka nan punyo, ameh pulang katambangnyo.
Suatu benda berharga yang sudah lama tidak ditemui, sekarang kembali kepada yang empunya semula, seperti merebut tanah air dari tangan penjajah, sampai kita merdeka.
382. Sadang baguru kapalang aja, lai bak bungo kambang tak jadi. Kunun kok dapek dek mandangga, tidak didalam dihalusi.
Setiap menuntut pengetahuan jangan putus ditengah, dan kurang mamfaatnya dengan mendengar saja, kalau dibandingkan dengan belajar sesungguhnya.
383. Sabab karano dek baitu, tumbuahlah niaik dalam hati, nak manuruik tambo nan dahulu sajarah adat nan usali.
Kalau ajaran adat telah dapat dipahami kemana masyarakat hendak dibawa oleh ajaran adat itu maka akan timbullah hasrat untuk mendalamnya.
384. Sangajo guno diuraikan, kahadapan nan basamo, untuak nak samo dipikiakan, nak samo dirunuak nan tujuan.
Penggugah hati para pembaca terutama putra Minang untuk mendalami filsafat adatnya.
385. Satinggi-tinggi malantiang, mambubuang ka awang-awang, suruiknyo katanah juo. Sahabih dahan jo rantiang, dikubak dikulik batang, tareh panguba barunyo nyato.
Adat Minangkabau tidak akan bisa dipahami secara baik, apalagi untuk dihayati dan diamalkan tanpa mendalami sungguh-sungguh.
386. Santan babaleh jo tubo, nikmat babaleh jo sansaro.
Kebaikan yang pernah diberikan seseorang kepada orang lain, tetapi balasannya dengan yang buruk.
387. Saumpamo aua jo tabiang, umpamo ikan jo aia.
Pergaulan yang baik saling bantu membantu dan kuat menguatkan, dan saling membutuhkan.
388. Sikujua baladang kapeh, kambanglah bungo karawitan. Kok mujua mandeh malapeh bak ayam pulang kapautan.
Setiap orang pergi merantau mengharapkan kehidupan yang baik dan pendapatan yang akan dibawa kekampung halaman.
389. Tak lakang dek paneh tak lapuak dek hujan, dianjak tak layua, dibubuik tak mati.
Kebenaran yang dikandung oleh Adat Minangkabau, karena ajarannya bersumber dari ketentuan alam yang disusun jadi pepatah yang senantiasa kebenarannya tidak dapat dibantah.
390. Tabujua lalu tabalintang patah.
Untuk mempertahankan kebenaran hendaklah dengan kegigihan yang sungguh-sungguh.
391. Tarandam-randam indak basah, tarapuang-apuang indak hanyuik.
Sesuatu perkara yang tidak jelas duduknya, selesai tidak diusutpun tidak.
392. Tak ujuang pangka mangganai, saragi baliak batimba.
Seseorang yang mempunyai pengetahuan dan alat-alat yang lengkap, yang dapat dipakai serba guna.
393. Tasingguang kanai miangnyo, tagisia kanai rabehnyo.
Kesalahan yang dibikin oleh seseorang, merembet-rembet kepada orang lain.
394. Tak siriah pinang mamalan, tak pasin anguakpun tibo.
Seseorang yang pandai mengikat seseorang dengan suatu perhitungan.
395. Tak laju bandiang mamacah, tak lalu dandang di aia, digurun ditajakkan juo.
Seseorang yang berpikiran jahat kepada orang lain, dia selalu berusaha untuk melaksanakan dimana dan kapan saja.
396. Tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo minum ambun, tarapuang samo hanyuik, tarandam samo basah.
Kerja sama yang baik dalam masyarakat, kesatuan hati dan pikiran, kesatuan pendapat dan gerak adalah pokok utama.
397. Titiak buliah ditampuang, maleleh buliah dibaliak.
Hasil kerja sama yang baik ini akan dapat dinikmati bersama oleh orang banyak.
398. Tagak indak tasundak, malenggang indak tapampeh.
Seseorang pemimpin yang punya wewenang penuh dan wibawa.
399. Talalok talalu mati, manyuruak talalu hilang.
Seorang pandai yang meinsulirkan diri dari masyarakat dan tak ingin bertanggungjawab.
400. Tinggi lonjak gadang galapuah, nan lago dibawah sajo.
Sifat seseorang yang senantiasa segala pandai dihadapan orang yang tak tahu, tetapi sebenarnya kosong belaka.
Continue Reading...

Pepatah Petitih Minangkabau (Part 3)

201. Jatuah mumbang jatuah kalapo, jatuah bairiang kaduonyo. Rusak adaik hancua pusako habih kabudayaan nan usali.
Kalau tidak hati-hati dan tidak dibina dan dikembangkan kebudayaan asli (Adat Minangkabau) hancurlah kebudayaan asli kita.
202. Jikok panghulu bakamanakan, maanjuang maninggikan. Pandai nan usah dilagakkan manjadi takabua kasudahannyo.
Pengetahuan dan kepintaran jangan dibanggakan karena mengakibat hati menjadi takbur jadinya.
203. Jauah cinto mancinto, dakek jalang manjalang.
Rasa kekeluargaan yang tak kunjung habis, walau jauh dimata tapi dekat dihati.
204. Jangek suriah kuliklah luko, namun lenggok baitu juo.
Seseorang yang tidak tahu diri walaupun dia telah jatuh hina karena perbuatannya, tetapi dia tetap membanggakan diri.
205. Jan disangko murah batimbakau, maracik maampai pulo, jan disangko murah pai marantau, basakik marasai pulo.
Hidup dirantau orang tidaklah semudah hidup dikampung halaman tempat kita dilahirkan, karena jauh handai tolan.
206. Jauah bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak diraso.
Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak pengalaman.
207. Kuaik rumah karano sandi, rusak sandi rumah binaso, kuaik bangso karano budi, rusak budi hancualah bangso.
Ketinggi suatu bangsa akan ditentukan oleh kepribadian bangsa itu sendiri. Kalau budi bangsanya telah hancur, akibat kehancuran bangsa itu sendiri.
208. Kilek baliuang lah ka kaki, kilek camin lah ka muko.
Suatu perbuatan dan perkataan yang telah difahami maksud dan tujuannya.
209. Kalau hari lah paneh lah lupo kacang jo kuliknyo.
Melupakan jasa baik orang lain yang pernah menolong kita, tetapi kapan kita telah mendapat kesenangan atau yang dicitakan melupakannya.
210. Kalau karuah aia di hulu sampai ka muaro karuah juo.
Pada umumnya keturunan menentukan corak dan kelakuan yang pernah dimiliki oleh ibu bapaknya.
211. Kalau kuriak induaknyo rintiak anaknyo.
Ibu bapak yang baik akan melahirkan anak-anak yang baik pula dan sebaliknya.
212. Kasingka talalu ampang, kapitungguah talampau unjua.
Seseorang yang memiliki pengetahuan serba tanggung sehingga tidak dapat dimanfaatkannya.
213. Kato iduik banyawa iduik, kato mati bapambunuahan.
Suatu keterangan yang diberikan ternyata ada kebenarannya, dan suatu keterangan yang tidak terbukti kebenarannya.
214. Kuaik katam karano tumpu, kuaik sapik karano takan.
Suatu pekerjaan atau kewajiban yang dikerjakan karena terpaksa, bukan karena kesadaran.
215. Ka bukik samo mandaki kalurah samo manurun.
Suatu pekerjaan yang dikerjakan secara bersama dan didorong oleh kesadaran.
216. Kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang.
Suatu pekerjaan begitupun tingkah laku dan peranggai yang dapat dicontoh oleh orang lain.
217. Kacak langan lah bak langan, kacak batih lah bak batih.
Seseorang yang baru saja mendapatkan suatu nikmat tetapi senantiasa dipergunakan dengan hati bangga dan sombong.
218. Kalau tasungkuik pado nan tinggi, jikok basanda pado nan gadang.
Sesuatu perbuatan hendaklah dilandaskan kepada Agama, Adat dan Undang-Undang Pemerintah.
219. Kato panghulu manyalasai, mandareh kato dubalang. Adaik kok kurang takurasai, dunia manjadi takupalang.
Ajaran Adat Minangkabau yang sejati kalau tidak diamalkan oleh masyarakatnya, hilanglah budi didalam diri.
220. Kalau dek pandang sapinteh lalu, banyak pahamnyo tagaliciak, pandai tak rago dek ba guru, salam tak sampai pado kasiah.
Ajaran Adat tidak dapat dipahami, apalagi untuk diamalkan kalau sekiranya hanya dengan mendengar pepatah petitih, tampa mendalaminya.
221. Katiko taimpik nak diateh, katiko takuruang nak dilua, bajalan baduo nak ditangah bajalan surang nak dahulu.
Pepatah ini mengandung arti: bagaimana sulitnya memimpin masyarakat yang jiwanya sangat kritis dan koreksi.
222. Kahilia jalan ka Padang, ka mudiak jalan ka Ulakan, kok musuah indak dihadang, tasuo nan indak ba ilakkan.
Tidak mau bermusuhan dalam hidup bermasyarakat tetapi kalua datang dengan tiba-tiba tidak pula dielakkan.
223. Kahilia jalan ka Sumani, sasimpang jalan ka Singkarak, saukua mangko manjadi, sasuai mangko takanak.
Sesuatu hendaklah dengan musyawarah untuk mufakat. Satu pendapat dan satu tujuan.
224. Kaduo kato mufakat, sakato urang kasadonyo, elok sapahan sahakikat, santoso kito salamonyo.
Satu pendapat dan satu gerak, satu tujuan akan melahirkan kesentosaan dan kebahagiaan dalam masyarakat.
225. Kaampek kato kamudian, patuik bana kato dicari, taruah naraco jo katian, paniliak langgam nan tadiri.
Didalam diri manusia yang berpengetahuan dan diamalkannya, ada neraca yang menentukan baik dan buruk.
226. Kato rajo kato basahajo, kato titah kato balimpahan, dari duo capailah tigo, jangan sakali disudahi.
Setiap manusia perlu mempunyai cita-cita yang tinggi dan mulia, tetapi harus dicapai dengan cara ber angsur-angsur.
227. Kato panghulu manyalasai, kato alim kato hakikat, talamun patuik kito kakeh, lahia jo bathin nak saikek.
Perlu penggalian adat dan agama Islam secara mendalam , sehingga lahir dan bathin dapat sesuai.
228. Kato bapak kato panggaja, kato kalipah dari mamak, mujua indak dapek kito kaja, malang tak dapek kito tulak.
Keuntungan tak dapat dikejar-kejar, begitupun mara bahaya dan musibah tidak kuasa manusia menolaknya.
229. Kato guru kato batuah, kato saudaro paringatan, kuncilah bathin jan taruah, budi nan jan sampai nampak.
Keteguhan bathin menyimpan rahasia seseorang, menjadikan orang yang teguh ini mulia budinya.
230. Kato parampuan kato manuruik, mangambiak hati suami, labiahkan rusuah jo takuik, jarek sarupo jo jarami.
Rusuh hati jangan kelihatan, takut paham tergadai, hati-hati dalam berbicara karena banyak musuh dalam selimut.
231. Kato adaik pahamnyo aman, malangkapi rukun dengan syarat, kalau elok pegang padoman, santoso dunia jo akhirat.
Ajaran adat dan agama Islam kalau benar-benar diamalkan, menjamin keselamatan dunia akhirat.
232. Koroang kampuang didalam jurai, baitu limbago sajak dahulu, dunialah lamo inyo pakai, raso pareso nyolah tahu.
Orang yang tua harus dihormati, karena ketuaannya dia telah banyak merasakan pahit manis dalam kehidupan.
233. Kalau adaik dalam nagari, bulek sagiliang picak satapiak, sabarek saringan kasadonyo Urang mulia dalam nagari, muluik manih basonyo baiak, sakati limo nilai haragonyo.
Kemuliaan dalam pandangan adat terletak pada budi baik dan indah bahasanya seseorang.
234. Karano indak mambao galah, mananti takadia kasamonyo, mudarat mufaat tak dikana, alamaik binaso kasudahannyo.
Senantiasalah kita dalam hidup bergaul memikirkan mudarat dan mamfaat, agar sentosa hidup bersama. Kalau tidak dipikirkan alamat hidup akan sengsara.
235. Kato manti kato bahubuang, kato dubalang kato mandareh. Jauhari pandai manyambuang, nan singkek buliah diuleh.
Orang jauhari bijaksana pandai mencari jalan keluar dalam suatu kesulitan yang datang secara tiba-tiba.
236. Kiniko coraklah barubah, alam mardeka lah tabantang, sadang manggali kasajarah usahokan galian dek basamo.
Kemerdekaan telah tercapai, kita harus menggali sejarah kebudayaan bangsa secara bersama.
237. Kok alah sampai di hulu, balunlah pulo sacukuiknyo. Dek kokoh niniak nan dahulu kunci nan limo pambukaknyo.
Nenek moyang di Minangkabau pemikirannya jauh memandang kedepan untuk masa anak cucu, dengan mempergunakan panca indra yang lima.
238. Kito di alam Minangkabau lah patuik tasintak pulo, katiko balun talampau elok dirunuik sitambo lamo.
Sudah masanya sekarang kita mengali dan mengembangkan adat Minangkabau sebagai rangkaian dari kebudayaan nasional.
239. Kauak indak sahabih gauang, awai indak sahabih raso, paham pahamnyo nan tak lansuang, batuka tujuan mukasuiknyo.
Adat Minangkabau selama ini tidak pernah mendapat pengalian dan pembinaan, akibatnya banyak orang salah pengertian tentang tujuan adat itu.
240. Kalau pai tampak pungguang, jikok babaliak tampak muko.
Kalau pergi hendaklah memberi tahu, jika kembali hendaklah memberi khabar.
241. Kalau indak pandai bakato-kato, bak alu pancukia duri, kalau pandai bakato-kato bak santan jo tangguli.
Seseorang yang tak pandai berbicara secara baik, sama dengan alu pencongkel duri tetapi kalau pandai umpama santai dengan tengguli.
242. Kato papatah caro Minang, patitiah luhak nan tigo. Nan turun dari Parpatiah nan sabatang, manjadi kato pusako.
Ajaran adat Minangkabau yang disusun oleh Dt. Parpatih nan Sabatang, merupakan ajaran yang dapat mengikuti perkembangan zaman.
243. Kito nan bukan cadiak pandai, ulemu di Tuhan tasimpannyo. Kok senteang batolong bilai tandonyo kito samo sabanso.
Kalau dijumpai kekilafan dan kesalahan tolong maaf dan betulkan, karena khilaf itu sifat manusia, tandanya kita orang satu bangsa.
244. Kito nan bukan cadiak pandai, hanyo manjawek pituah dari guru. Pituah guru nan dipakai, nak jadi paham jo ukuran.
Nasehat guru dan pelajaran yang diajarkannya kepada murid, adalah menjadi pedoman dalam kehidupan.
245. Kalau ketek dibari namo, urang gadang dibari gala, nak tapek adaik jo limbago, faham adaik nak nyato bana.
Kalau dapat mendalami ajaran adat kita akan mendapatkan mutiara yang berharga didalamnya yang berguna untuk hidup bergaul dalam masyarakat.
246. Kaluah kasah papek nan ampek, sarato anggota katujuahnyo, panca indra manangguangkan, batang tubuah marasokan.
Sesuatu perbuatan tanpa pemikiran dan pertimbangan akan menimbulkan penyiksaan terhadap bathin kita sendiri.
247. Kalau balaia banakodoh, jikok bajalan jo nan tuo.
Mengerjakan suatu pekerjaan hendaklah dengan yang ahlinya, memasuki suatu negeri hendaklah dengan orang yang mengetahuinya.
248. Kuaik dari paga basi, kokoh nan dari paga tembok.
Pagar yang paling kokoh ialah pagar sesuatu dengan budi yang baik.
249. Kato sapatah dipikiri, bajalan salangkah madok suruik.
Pikirkanlah semasak-masaknya apa yang akan kita sampaikan kepada orang lain sehingga tidak menyinggung perasaannya.
250. Karantau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, dirumah baguno balun.
Pergilah merantau kenegeri orang, cari ilmu pengetahuan, serta cari mata penghidupan, untuk kemudian dibawa dan dikembangkan dikampung halaman.
251. Kasiah sayang dapek dicari, tampek hati jarang basuo.
Untuk mencari istri paling mudah, yang sulit mencari istri untuk menjadi teman sehidup semati.
252. Kalauik riak maampeh, kapulau riak mamutuih, kalau mangauik iyo bana kameh, kalau mancancang iyo bana putuih.
Setiap pekerjaan yang kita kerjakan, begitupun pengetahuan yang kita pelajari jangan patah ditengah.
253. Kalau tali kaia panjang sajangka, lauik dalam usah didugo.
Kalau pengetahuan baru seujung kuku jangan dicoba mengurus pekerjaan yang sulit.
254. Kulik maia ditimpo bathin, bathin ditimpo galo-galo, dalam lahia ado ba bathin, dalam bathin bahakikat pulo.
Ajaran adat Minangkabau bukan sekedar lahiriyah, tetapi banyak mengandung arti dan makna yang tersirat, yang menuju kepada mental manusia.
255. Kacimpuang pamenan mandi, rasian pamenan lalok.
Mimpi itu kebanyakan sesuatu yang terangan-angan diwaktu bangun.
256. Lain geleang panokok asiang kacundang sapik.
Gelagat seseorang atau suasana yang menunjukkan tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang tak diingini.
257. Lah samak jalan kapintu, lah tarang jalan kadapua.
Seorang suami yang tidak kenal lagi pada tugasnya sebagai mamak dari kemenakan, tetapi semata tahu kepada si istri saja.
258. Limpato batang sitawa, digulai cubadak mudo, lah biaso kito tasalah, karano pangana indak sakali tibo.
Kekilafan dan kesalahan adalah sifat seorang manusia, karena pemikirannya tidak secara serentak.
259. Lauik gadang kalau dihadang, sadiokan sampan jo pandayuang.
Hiduik didunia mangupalang, sagalo karajo kamari cangguang.
260. Limpapeh rumah nan gadang, umbun puruik pegangan kunci.
Kaum wanita di Minangkabau adalah merupakan tiang kokoh diatas rumah tangga dan nageri, dan kunci tentang kebaikan dan keburukan suatu negeri.
261. Lauik banyak nan sati, rantau banyak nan batuah.
Kalau pergi berjalan kerantau orang hendaklah pandai menyesuaikan diri dalam pergaulan.
262. Lah bacampua lamak jo galeme, indak babedo sadah jo tapuang.
Dalam suatu masyarakat tidak ada lagi batas-batas dalam pergaulan menurut norma adat dan agama.
263. Lahia jo bathin saukuran, isi kulik umpamo lahia.
Seseorang yang baik dan jujur sesuai kata dan perbuatannya.
264. Labuah luruih jalannyo pasa jan manyipang suok jo kida.
Sudah aturan dan undang-undang dan sudah cukup norma adat dan agama, jangan menyimpang dari itu.
265. Mumbang jatuah kalapo jatuah, indak babedo kaduonyo.
Setiap yang bernyawa akan menemui ajalnya baik tua ataupun muda, kecil dan besar.
266. Malabihi ancak-ancak, mangurangi sio-sio.
Setiap pekerjaan hendaklah pertengahan, jangan berlebih-lebihan, begitupun dalam tingkah dan laku.
267. Mukasuik hati mamaluak gunuang, apo dayo tangan indak sampai.
Seseorang yang mempunyai cita-cita tinggi, tetapi tidak ada kemampuan untuk mencapainya.
268. Mancabiak baju didado, manapuak aia didulang.
Seseorang yang berbicara tetapi tidak disadarinya bahwa dia telah memberi malu diri dan keluarganya sendiri.
269. Malakak kuciang didapua, manahan jarek dipintu.
Perbuatan seseorang yang tidak baik yang dilakukan kepada keluarga sendiri.
270. Mancari dama ka bawah rumah, mamapeh dalam balanggo.
Mencari keuntungan kedalam lingkungan anak kemenakan sendiri.
271. Mairikkan galah jo kaki, manjulaikan aka bakeh bagayuik, malabiahkan lantai bakeh bapinjak.
Seseorang yang ingin menjadikan orang lain tersalah, dengan jalan anjuran dan petunjuknya.
272. Mandapek samo balabo, kahilangan samo barugi.
Rasa social dan kerja sama yang baik yang harus diamalkan dalam pergaulan.
273. Manyauak di ilia-ilia, bakato dibawah-bawah.
Bergaul dalam masyarakat, begitupun dirantau orang hendaklah merendahkan diri.
274. Mancaliak jo suduik mato, bajalan di rusuak labuah.
Seseorang yang telah merasa malu, karena perbuatan yang tidak benar telah diketahui orang.
275. Mancaliak tuah ka nan manang, maliek contoh ka nan sudah, manuladan ka nan baik.
Selalulah kita melihat hasil yang baik dan dapat pula kita laksanakan, yakni yang telah positif baik.
276. Mamakai hereang jo gendeang, mamakai raso jo pareso.
Seseorang yang memakai perasaan malu dan mempunyai kesopanan yang baik.
277. Muluik manih talempong kato, baso baiak gulo dibibia.
Seseorang yang berbicara dengan lemah lembut dan baik susunan bahasanya.
278. Maliang cilok taluang dinding, tikam bunuah padang badarah. Ibo di adat katagiliang turuikkan putaran roda.
Kebudayaan asli jangan sampai hilang, sesuaikan diri dan aturan adat beradat serta istiadat dengan kemajuan.
279. Malu batanyo sasek dijalan, sagan bagalah hanyuik sarantau.
Seseorang yang tidak mau bertanya tentang suatu pekerjaan yang tidak/belum dikerjakan. Karena ajaran adat itu pada umumnya berkiasan, tidak mudah dipahami tanpa mengetahuinya akan mengalami kesulitan.
280. Minangkabau dahulunyo, adaiknyo tuah disakato, kalau dipandang kato-kato, dipahamkan makonyo nyato, didalami sungguh-sungguh.
281. Maniah nan jan lakeh di raguak, pahik nan jan lakeh di luahkan.
Sesuatu pelajaran dan pengetahuan dari orang lain pikirkan dahulu semasak-masaknya, benar atau tidaknya.
282. Mati harimau tingga balang, mati gajah tingga gadiang.
Manusia mati hendaknya meninggalkan jasa yang baik untuk anak dan keluraga seta masyarakat.
283. Mati samuik karano manisan, jatuah kabau dek lalang mudo.
Biasanya manusia itu banyak terpedaya oleh mulut manis dan budi bahasa yang baik.
284. Marangkuah tungua ka dado, maraiah suatu ka diri.
Setiap suatu yang dirasakan oleh orang lain hendak dapat dirasakan oleh kita sendiri
285. Mampahujankan tabuang garam, mampaliakkan rumah indak basasak.
Seseorang yang membukakan aibnya sendiri kepada oaring lain.
286. Manjujuang balacan dikapalo, mangali-gali najih dilubang.
Seseorang yang senang membukankan aib orang lain.
287. Managakkan banang basah, manaiakkan banda sundai.
Seseorang yang menolong orang lain, sedang orang lain itu dipihak yang tidak benar.
288. Musang babulu ayam, musuah dalam salimuik.
Seseorang yang berpurak menolong dan berpihak kepada kita, tetapi dia sebenarnya ingin mengetahui pendirian kita dan musuh kita.
289. Manusia manahan kieh, binatang Manahan palu.
Manusia yang sempurna selalu mengetahui kata-kata kiasan di Minangkabau.
290. Murah kato takatokan, sulik kato jo timbangan.
Berbicara sangat mudah, tetapi sulit memelihara perkataan yang akan menyinggung perasaan orang lain.
291. Marabah sadundun jo balam, sikok barulang pai mandi, sambah sadundun jo salam, kato harok dibinisi.
Biasanya dalam pergaulan hidup, Tanya diberi kata berjawab, gayung bersambut.
292. Nan kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah sago, nan baiak iyo budi, nan indah iyo lah baso.
Yang paling berharga dalam kehidupan bergaul adalah budi pekerti yang baik, serta sopan santun.
293. Nak urang koto hilalang, nak lalu kapakan baso, malu jo sopan kok nyo hilang, habih lah raso jo pareso.
Kalau sifat malu telah hilang dalam diri seseorang, hilang segala perasaan sopan santun.
294. Nan bungkuak dimakan saruang, nan bengkok dimakan tali.
Setiap sifat dan tindak tanduk yang tidak jujur dan benar, akan senantiasa ada ganjarannya (hukum karma)
295. Nan luruih katangkai sapu, nan bungkuak katangkai bajak, satampok kapapan tuai, nan ketek kapasak suntiang, panarahan kakayu api, abunyo kapupuak padi.
Didalam ajaran adat tidak ada bahan yang tidak berguna, tidak ada orang yang tidak dapat dimamfaatkan.
296. Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak pamasang badia, nan lumpuah pahunyi rumah, nan patah pangajuik ayam, nan bingguang kadisuruah-suruah, nan cadiak bao baiyo, nan kayo bakeh batenggang.
Semua orang dapat dimamfaatkan, mulia hina, kaya dan miskin, sempurna, cacat, pandai dan bodoh. Sistim yang terdapat dalam adat Minangkabau.
297. Nan condoang makanan tungkek, nan lamah makanan tueh.
Dalam adat manusia lemah harus dibimbing dan dibantu, lebih-lebih kaum wanita, yang qudrat hayatinya lemah dari kaum lelaki.
298. Nan landai batitih, nan condong baraiah, nan lamah baindiak.
Dilarang didalam adat orang yang memperlakukan si lemah semau-maunya.
299. Nak mulia tapek-i janji, nak taguah paham dikunci.
Kalau ingin jadi orang yang dimuliakan selalu tepati janji, dan tidak suka membuka rahasia.
300. Nak tinggi naiak kan budi, nak haluih baso jo basi.
Kalau ditinggikan orang dalam masyarakat peliharalah budi, dan pakailah basa basi.
Continue Reading...
Designed by: Ariefortuna's Zone
 

Ariefortuna Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ariefortuna for ariefortuna's Zone